Perusahaan AI Pertahanan Palantir Menebar Manifesto Kontroversial
Palantir Technologies, perusahaan yang dikenal sebagai pemasok perangkat lunak AI untuk pertahanan dan pengawasan bagi institusi seperti Angkatan Darat AS, ICE, dan NYPD, baru-baru ini membagikan manifesto sepanjang 1.000 kata melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter). Dokumen ini disebut-sebut sebagai ringkasan dari buku terbaru CEO Palantir, Alex Karp, dan Nicholas W. Zamiska, berjudul The Technological Republic (2025).
Isi manifesto tersebut dinilai aneh dan mengkhawatirkan oleh banyak pihak. Salah satu poin utamanya menyatakan, "Kemampuan masyarakat bebas dan demokratis untuk bertahan tidak hanya membutuhkan daya tarik moral. Ia membutuhkan kekuatan keras, dan kekuatan keras di abad ini akan dibangun melalui perangkat lunak."
Poin-Poin Utama Manifesto Palantir
Berikut adalah inti dari manifesto Palantir yang dibagikan di X:
- Kewajiban moral Silicon Valley: Perusahaan teknologi wajib berkontribusi dalam pertahanan nasional karena kemajuan mereka tidak lepas dari dukungan negara.
- Kritik terhadap dominasi aplikasi: iPhone dianggap telah membatasi kreativitas manusia dan membatasi potensi peradaban.
- Kekuatan keras vs. soft power: Masyarakat demokratis tidak cukup hanya dengan retorika moral; mereka membutuhkan kekuatan nyata yang berbasis perangkat lunak.
- Pengembangan AI untuk militer: Palantir menekankan bahwa senjata AI akan dikembangkan oleh pihak lawan, sehingga AS harus segera bertindak untuk mempertahankan keunggulan teknologi.
- Wajib militer universal: Palantir menyerukan agar sistem wajib militer diterapkan untuk semua warga negara, bukan hanya sukarelawan.
- Kritik terhadap inklusivitas: Manifesto ini menentang gagasan mendefinisikan budaya nasional berdasarkan inklusivitas, serta mengkritik perlakuan terhadap miliarder dan paparan kehidupan pribadi tokoh publik.
Reaksi dan Kontroversi
Unggahan manifesto Palantir menuai berbagai reaksi. Beberapa pihak menilai dokumen ini sebagai narasi berlebihan layaknya tokoh jahat dalam komik, sementara yang lain melihatnya sebagai pernyataan tegas tentang peran teknologi dalam pertahanan nasional.
"Kemampuan masyarakat bebas dan demokratis untuk bertahan tidak hanya membutuhkan daya tarik moral. Ia membutuhkan kekuatan keras, dan kekuatan keras di abad ini akan dibangun melalui perangkat lunak."
Manifesto ini juga menyebutkan bahwa kebudayaan yang tidak mampu memberikan pertumbuhan ekonomi dan keamanan akan dianggap dekaden. Selain itu, Palantir menyerukan agar pembatasan pasca-Perang Dunia II terhadap Jerman dan Jepang diakhiri untuk memperkuat posisi Barat dalam persaingan global.
Visi Palantir tentang Masa Depan
Dalam bukunya, Palantir menggambarkan visi tentang "Republik Teknologi" yang menekankan pentingnya perangkat lunak sebagai fondasi kekuatan nasional. Perusahaan ini meyakini bahwa tanpa penguasaan teknologi kritis, demokrasi Barat akan kalah dalam persaingan global.
Meskipun kontroversial, manifesto ini memberikan gambaran jelas tentang arah strategis Palantir di masa depan. Bagi yang penasaran, seluruh unggahan manifesto tersebut dapat diakses melalui akun X resmi Palantir.