Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan mantan Presiden Donald Trump kembali menegaskan penolakan terhadap layanan pengurangan dampak buruk bagi pengguna narkoba ilegal. Langkah ini dinilai kontroversial karena dianggap menghambat upaya pencegahan overdosis dan kematian akibat narkoba.
Pada 24 April, Badan Administrasi Layanan Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan Zat (SAMHSA), yang berada di bawah Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, menerbitkan surat terbuka kepada penerima hibah federal. Dalam surat tersebut, SAMHSA secara tegas melarang penggunaan dana federal untuk membeli perlengkapan pengurangan dampak buruk, seperti jarum suntik steril, pipa, serta test strip untuk mendeteksi zat aditif dalam narkoba, termasuk fentanil, xylazine, dan medetomidine.
Larangan ini mencakup distribusi test strip yang selama ini dianggap sebagai alat penting untuk mencegah overdosis fatal akibat penggunaan narkoba yang tercampur zat berbahaya. Test strip ini memungkinkan pengguna untuk memeriksa keberadaan fentanil dalam narkoba sintetis atau heroin sebelum dikonsumsi.
Keputusan ini menuai kritik dari para ahli kesehatan masyarakat dan organisasi advokasi. Mereka berargumen bahwa larangan ini justru akan meningkatkan risiko kematian akibat overdosis, terutama mengingat maraknya penggunaan fentanil ilegal yang sangat berpotensi mematikan. Fentanil, yang 50 kali lebih kuat dari heroin, telah menjadi penyebab utama kematian akibat overdosis di AS dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), lebih dari 100.000 orang meninggal akibat overdosis narkoba pada tahun 2021, dengan mayoritas kasus melibatkan fentanil. Larangan penggunaan test strip untuk mendeteksi zat ini dinilai bertentangan dengan upaya pemerintah dalam menangani krisis opioid yang telah berlangsung selama satu dekade.
Para kritikus juga menyoroti bahwa kebijakan ini tidak sejalan dengan prinsip-prinsip pengurangan dampak buruk, yang telah terbukti efektif dalam menurunkan angka kematian akibat narkoba di negara-negara lain. Pendekatan ini menekankan pada pemberian akses kepada pengguna narkoba untuk layanan kesehatan, pendidikan, dan alat-alat yang dapat menyelamatkan nyawa, tanpa menghukum mereka.
Surat SAMHSA tersebut juga menyatakan bahwa dana federal hanya boleh digunakan untuk program yang sejalan dengan kebijakan pemerintah saat ini, yang lebih menekankan pada pencegahan penggunaan narkoba daripada pengurangan dampak buruk. Hal ini mencerminkan pergeseran kebijakan dari pemerintahan sebelumnya, yang lebih terbuka terhadap pendekatan ini.
Organisasi-organisasi seperti Harm Reduction Coalition dan Drug Policy Alliance telah menyuarakan keprihatinan mereka terhadap kebijakan ini. Mereka mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan kembali keputusan tersebut dan memastikan bahwa dana federal dapat digunakan untuk membeli test strip serta perlengkapan pengurangan dampak buruk lainnya.
Di tengah kontroversi ini, para ahli kesehatan masyarakat menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam menangani krisis narkoba. Mereka berpendapat bahwa larangan terhadap test strip hanya akan memperburuk situasi dan menyebabkan lebih banyak kematian yang sebenarnya dapat dicegah.