Program emas yang dikelola oleh United States Mint (U.S. Mint) selama ini dianggap sebagai simbol kemakmuran dan keberhasilan ekonomi Amerika Serikat. Namun, sebuah investigasi terbaru mengungkap kenyataan yang jauh berbeda. Alih-alih hanya menggunakan emas lokal, U.S. Mint diketahui menerima dan memproses emas ilegal dari berbagai sumber, termasuk kartel narkotika, pemerintah asing, hingga kelompok teroris.

Temuan ini berasal dari investigasi mendalam yang dilakukan oleh The New York Times, yang melacak aliran emas ilegal dari tambang-tambang berbahaya di seluruh dunia hingga sampai ke pabrik pemurnian di Amerika Serikat, termasuk fasilitas di West Point, New York. Laporan tersebut dipublikasikan pada Minggu, 13 Oktober 2024.

U.S. Mint merupakan produsen terbesar koin emas di pasar global. Keuntungan dari penjualan emas ini menjadi sumber pendapatan penting bagi pemerintah AS, yang digunakan untuk membiayai berbagai pengeluaran negara. Namun, sejak tahun 1985, Kongres telah melarang U.S. Mint untuk memproduksi koin dari emas impor guna menghindari keterlibatan dalam praktik-praktik ilegal di luar negeri.

Meskipun demikian, investigasi menunjukkan bahwa larangan tersebut telah dilanggar secara berulang, tanpa memandang siapa yang memimpin pemerintahan AS. Akibatnya, emas ilegal dari berbagai negara, termasuk yang berasal dari kelompok-kelompok bermusuhan dengan AS, telah masuk ke dalam sistem U.S. Mint dan akhirnya beredar di pasar internasional sebagai emas yang 'bersih'.

Emas dari Kartel, Pemerintah Asing, hingga Teroris

Investigasi The New York Times menemukan bahwa emas yang diproses oleh U.S. Mint berasal dari berbagai sumber ilegal, antara lain:

  • Kolombia: Tambang yang dikelola oleh Clan del Golfo, sebuah kartel narkotika yang masuk dalam daftar hitam Departemen Keuangan AS. Kartel ini tidak hanya terlibat dalam perdagangan narkoba, tetapi juga perdagangan emas ilegal.
  • Kongo: Tambang emas yang sebagian dimiliki oleh pemerintah China, dengan catatan buruk terkait pelanggaran hak asasi manusia dan eksploitasi pekerja.
  • Sudan: Emas dari tambang di negara ini diketahui mendanai perang saudara yang telah menyebabkan lebih dari 14 juta orang mengungsi.
  • Venezuela dan Iran: Emas ilegal dari kedua negara ini digunakan untuk menghindari sanksi ekonomi internasional.
  • Al Qaeda dan kelompok teroris lainnya: Laporan menunjukkan bahwa beberapa kelompok teroris juga terlibat dalam perdagangan emas ilegal yang akhirnya sampai ke U.S. Mint.

Dengan dana yang diperoleh dari perdagangan emas ilegal ini, kelompok-kelompok tersebut dapat membiayai kegiatan berbahaya, termasuk perang, dukungan terhadap rezim otoriter, hingga pembunuhan massal. Rusia, misalnya, diketahui menggunakan dana dari perdagangan emas untuk membiayai invasi ke Ukraina.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan yang Mematikan

Selain berdampak pada stabilitas politik dan keamanan global, praktik pertambangan emas ilegal juga menimbulkan kerusakan lingkungan yang parah. Di banyak wilayah, hutan Amazon telah ditebangi secara liar untuk membuka lahan tambang. Para pekerja tambang, termasuk anak-anak, terpaksa mencampurkan merkuri ke dalam lumpur emas secara manual. Proses ini tidak hanya meracuni ekosistem setempat, tetapi juga menyebabkan keracunan pada pekerja dan masyarakat sekitar.

Ketika pertama kali dihubungi oleh The New York Times, seorang juru bicara U.S. Mint menyatakan bahwa semua emas yang mereka gunakan berasal dari dalam negeri. Namun, setelah dihadapkan dengan bukti-bukti yang ditemukan oleh media tersebut, juru bicara itu kemudian mengubah pernyataannya dan mengakui adanya kemungkinan campuran emas impor dalam proses produksi mereka.

Investigasi ini memunculkan pertanyaan serius tentang integritas sistem keuangan AS dan peran U.S. Mint dalam membersihkan dana ilegal dari berbagai sumber. Dengan nilai emas yang terus melonjak—dari rata-rata $317 per ons pada tahun 1985 menjadi hampir $4.688 per ons saat ini (atau sekitar lima kali lipat jika disesuaikan dengan inflasi)—ancaman pencucian uang melalui komoditas ini semakin meningkat.

"Emas ilegal tidak hanya merusak lingkungan dan menghidupi kelompok-kelompok berbahaya, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi global. U.S. Mint, sebagai lembaga resmi pemerintah, seharusnya tidak menjadi bagian dari skema pencucian uang semacam ini."