Pengacara Elon Musk menutup kasus melawan OpenAI pada Kamis (12/9) dengan argumen akhir yang menegaskan bahwa organisasi kecerdasan buatan tersebut telah menyalahgunakan jutaan dolar dana donasi Musk dan melanggar kewajiban untuk menjaga misi awal OpenAI.
Setelah tahap pembuktian Musk, pengacara OpenAI dan Microsoft akan mengajukan pembelaan dengan menyatakan bahwa struktur organisasi telah berubah, namun misinya tetap sama.
Mengapa Kasus Ini Penting
Musk menuntut agar CEO OpenAI, Sam Altman, dipecat dari dewan organisasi serta ganti rugi miliaran dolar. Ia menyatakan akan menyumbangkan seluruh hasil gugatan tersebut kembali ke divisi nirlaba OpenAI.
Argumen Akhir Musk: OpenAI Menyimpang dari Misi Awal
Dalam argumen akhirnya, pengacara Steven Molo menekankan bahwa OpenAI telah melanggar misi nirlabanya untuk mengembangkan AI yang aman dan bermanfaat bagi dunia. Menurut Molo, para eksekutif OpenAI justru mencari keuntungan pribadi melalui pemberian saham dan transaksi tidak wajar dengan entitas yang memiliki keterkaitan finansial.
Molo juga menyoroti integritas Sam Altman, yang menurutnya terbukti diragukan setelah kesaksian mantan rekan kerjanya, Ilya Sutskever dan Mira Murati, serta mantan anggota dewan, Helen Toner dan Tasha McCauley.
Kronologi Kasus
Pada 2024, Musk menggugat OpenAI, Altman, dan Presiden Greg Brockman atas tuduhan pelanggaran kewajiban terhadap misi amal. Pada tahun yang sama, Musk menambahkan Microsoft sebagai tergugat, dengan tuduhan membantu OpenAI melanggar kewajibannya.
Sidang yang dimulai bulan lalu telah menghadirkan sejumlah tokoh penting di dunia AI, termasuk Musk, Altman, Ketua Dewan OpenAI Bret Taylor, CEO Microsoft Satya Nadella, serta mantan karyawan dan anggota dewan OpenAI lainnya.
Keunikan Proses Hukum
Sidang ini memiliki perbedaan signifikan dibandingkan kasus hukum pada umumnya. Putusan juri hanya bersifat anjuran, dan hakim berhak membatalkannya. Jika akhirnya OpenAI atau Microsoft dinyatakan bersalah, akan ada tahap terpisah untuk menentukan besaran ganti rugi.