Upaya redistrik yang dipaksakan Presiden Donald Trump pada Partai Republik ternyata berbalik merugikan. Dengan hasil pemilu di Virginia pada Selasa (5/11), Partai Republik kini diprediksi hanya akan menguasai lebih sedikit kursi DPR dibandingkan jika redistrik tidak pernah dilakukan.

Mengapa Ini Penting?

Trump mempertaruhkan mayoritas tipis Partai Republik di DPR dengan mendorong redistrik besar-besaran di pertengahan dekade. Namun, langkah ini justru terlihat sebagai kesalahan strategi yang membuat harapan Partai Republik untuk meraih keuntungan besar semakin tipis.

Sementara itu, Ketua Minoritas DPR Hakeem Jeffries (D-NY) dan rekan-rekannya merayakan kemenangan "perang maksimum" mereka. Namun, pertarungan di Florida dan keputusan Mahkamah Agung AS yang akan datang memberikan sedikit harapan bagi Partai Republik untuk menghentikan kerugian.

Dampak Redistrik terhadap Peta Politik

Salah satu cara untuk melihat dampak redistrik adalah dengan membandingkan hasil dua pemilu terakhir (2020 dan 2024) menggunakan peta lama dan baru di tujuh negara bagian yang melakukan redistrik. Berdasarkan analisis Axios terhadap data dari Dave's Redistricting dan Redistricting Data Hub:

  • Jika menggunakan hasil pemilu 2024, Kamala Harris akan memenangi enam kursi lebih banyak dibandingkan dengan peta lama.
  • Jika menggunakan hasil pemilu 2020, Joe Biden akan memenangi dua kursi lebih banyak.

Perubahan Signifikan di Beberapa Negara Bagian

  • Di Virginia, peta baru berpotensi mengubah delegasi dari 6–5 menjadi 10–1 untuk Demokrat.
  • Di California, Demokrat berpeluang merebut lima kursi baru.
  • Utah kini memiliki satu kursi lagi yang lebih condong ke Demokrat.
  • Sementara itu, Partai Republik berusaha merebut hingga lima kursi di Texas, dua di Ohio, satu di Carolina Utara, dan satu di Missouri.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Legislator Florida akan kembali ke Tallahassee akhir bulan ini untuk sesi khusus yang tertunda. Negara bagian ini menjadi medan pertempuran terakhir dalam redistrik.

Namun, prospek Florida untuk menyetujui peta baru masih suram. Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu khusus baru-baru ini semakin menambah kekhawatiran Partai Republik bahwa kursi aman mereka bisa terancam.

Faktor Lain yang Berperan

Hasil pemilu November nanti akan menentukan siapa yang benar-benar diuntungkan oleh redistrik. Pada pemilu 2018, suara pemilih bergeser 6,5 poin ke Demokrat dibandingkan 2016. Namun, situasi saat ini berbeda karena jumlah distrik kompetitif semakin sedikit.

Keputusan pengadilan juga dapat mengubah hasil. Mahkamah Agung AS berpotensi membatalkan bagian penting dari Undang-Undang Hak Suara dalam kasus Louisiana. Jika keputusan tersebut mempersempit perlindungan hak suara, hal ini dapat membuka jalan bagi lebih dari selusin distrik yang condong ke Republik di wilayah Selatan.

Waktu keputusan Mahkamah Agung juga krusial. Undang-undang federal mewajibkan negara bagian untuk mengirimkan surat suara ke luar negeri 45 hari sebelum pemilu primer. Bagi beberapa negara bagian, tenggat waktu ini telah lewat, sehingga redistrik harus segera dilakukan.

Kesimpulan: Redistrik Bukan Jaminan Kemenangan

Redistrik dapat mengurangi persaingan dan mengubah lanskap politik secara signifikan. Namun, perilaku pemilih dan keputusan pengadilan tidak dapat diprediksi. Seperti yang terlihat dalam penolakan di Indiana, upaya Trump untuk mendorong redistrik juga menghadapi hambatan.

Dengan kata lain, redistrik bukanlah solusi pasti untuk memenangi pemilu. Semuanya akan bergantung pada suara pemilih dan putusan hukum di masa mendatang.

Sumber: Axios