Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menolak usulan Iran untuk membuka Selat Hormuz sebagai imbalan pencabutan blokade ekonomi AS terhadap pelabuhan Iran serta penundaan pembicaraan nuklir. Trump menyampaikan penolakannya dalam wawancara dengan Axios pada Rabu (11/9).
"Blokade lebih efektif daripada serangan bom. Mereka tercekik seperti babi yang disembelih. Dan keadaan akan semakin buruk bagi mereka. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," kata Trump kepada Axios.
Ia menambahkan, "Mereka ingin berdamai. Mereka tidak ingin saya melanjutkan blokade. Saya tidak mau mencabutnya, karena saya tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir."
Perlu diketahui, para ahli menyebut Iran belum mendekati kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir saat AS pertama kali melancarkan serangan gabungan dengan Israel. Bahkan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, kesulitan menjelaskan ancaman nuklir Iran yang mendesak dalam sidang kongres pada Rabu. Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) telah menyiapkan rencana serangan "singkat dan kuat" terhadap Iran, kemungkinan menargetkan infrastruktur vital, menurut tiga sumber yang dihubungi Axios.
Tujuan serangan ini adalah mendorong Iran kembali ke meja perundingan dengan bersedia memenuhi tuntutan AS. Namun, Trump sendiri mengakui bahwa serangan bom tidak seefektif blokade dalam menekan Iran. Selain itu, biaya operasional juga sangat besar. Pentagon pada Rabu mengumumkan bahwa anggaran untuk Operasi Epic Fury mencapai US$25 miliar.
Sebagai tanggapan, seorang pejabat tinggi Iran memperingatkan bahwa blokade AS akan "segera dihadapi dengan tindakan nyata dan belum pernah terjadi sebelumnya."