Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusulkan penghapusan sementara pajak federal atas bahan bakar minyak (BBM) untuk meringankan beban masyarakat akibat kenaikan harga akibat perang di Timur Tengah. Ia menyebut langkah ini sebagai ide yang cemerlang.

"Kami akan menghapus pajak BBM untuk sementara waktu. Ketika harga BBM turun, pajak akan diberlakukan kembali," kata Trump dalam wawancara telepon dengan CBS News, Senin (20/5).

Usulan ini menjadi pengakuan tidak langsung bahwa dampak perang Iran terhadap ekonomi global belum akan berakhir dalam waktu dekat. Sejak perang dimulai pada 28 Februari, harga BBM di AS melonjak hingga 50%, mencapai rata-rata $4,52 per galon per akhir Mei.

Harga yang tinggi ini diperkirakan akan terus bertahan selama Iran dan AS memblokir jalur transit di Selat Hormuz. Penghapusan pajak federal atas BBM akan mengurangi harga sebesar 18,4 sen per galon untuk bensin dan 24,4 sen per galon untuk solar. Namun, langkah ini memerlukan persetujuan dari Kongres.

Beberapa anggota Kongres dari Partai Republik telah menyatakan dukungannya. Senator Josh Hawley dan Wakil DPR Anna Paulina Luna mengumumkan rencana untuk mengajukan rancangan undang-undang guna merealisasikan usulan Trump. Jika disetujui, penghapusan pajak BBM akan mengurangi pendapatan pemerintah sebesar $500 juta per minggu, yang selama ini digunakan untuk pemeliharaan jalan dan proyek transportasi lainnya.

Sementara itu, upaya pencapaian kesepakatan damai dengan Iran masih jauh dari harapan. Trump menyebut gencatan senjata saat ini berada dalam kondisi "tergantung pada alat bantu kehidupan" setelah ia menolak proposal terbaru Iran yang dianggapnya "SANGAT TIDAK DAPAT DITERIMA" pada hari sebelumnya.

Jika gencatan senjata berakhir dan AS melanjutkan serangan terhadap Iran, harga minyak diperkirakan akan melonjak lebih tinggi lagi. Hal ini berpotensi menghapus dampak sementara yang dirasakan masyarakat akibat penghapusan pajak BBM.

Usulan ini muncul di tengah penurunan popularitas Trump yang sudah berada pada level historis rendah. Apakah ia yakin masyarakat AS dapat tertipu dengan langkah sementara ini?