Keterlibatan Perusahaan Don Jr. dan Eric Trump dalam Kontrak Militer
Don Jr. dan Eric Trump, putra sulung mantan Presiden AS Donald Trump, terlibat dalam dua kontrak pemerintah besar melalui perusahaan yang mereka dukung. Kontrak pertama melibatkan pembelian drone militer oleh Angkatan Udara AS, sementara yang lain terkait dengan proyek pertambangan tungsten senilai miliaran dolar di Kazakhstan.
Powerus: Kontrak Drone Militer oleh Angkatan Udara AS
Powerus, produsen drone yang didirikan oleh veteran Operasi Khusus Angkatan Darat AS, baru-baru ini mendapatkan kontrak besar dari Angkatan Udara AS. Perusahaan ini memulai operasinya tahun lalu dan melakukan merger dengan sebuah klub golf pada Maret 2024. Merger tersebut membuat perusahaan go public melalui reverse merger.
Don Jr. dan Eric Trump terlibat dalam dewan direksi Powerus setelah merger. Perusahaan investasi mereka, American Venture, juga mendukung entitas gabungan tersebut. Selain itu, bank investasi boutique mereka, Dominari Securities, terlibat dalam transaksi ini.
Kontrak drone dengan Angkatan Udara AS diumumkan pekan lalu, ketika Amerika Serikat memasuki hari ke-60 dalam konflik dengan Iran. Brett Velicovich, salah satu pendiri Powerus, menegaskan bahwa keputusan pembelian tidak dipengaruhi oleh hubungan keluarga Trump dengan Gedung Putih.
"Mereka tidak akan memilih sistem karena siapa yang ada dalam daftar investor. Mereka memilih karena mereka membutuhkannya sekarang."
Brett Velicovich, pendiri Powerus
Menurut laporan dari Georgetown’s Center for Security and Emerging Technology pada November 2023, terdapat setidaknya 187 produsen drone di Amerika Serikat. Meskipun begitu, kontrak ini menambah daftar panjang keterlibatan keluarga Trump dalam proyek-proyek pemerintah.
Skyline Builders: Investasi di Proyek Pertambangan Tungsten Kazakhstan
Selain kontrak drone, Don Jr. dan Eric Trump juga terlibat dalam proyek pertambangan tungsten di Kazakhstan. Melalui perusahaan cangkang yang mereka dukung, mereka setuju untuk merger dengan perusahaan pertambangan besar yang baru saja mendapatkan dukungan pemerintah AS senilai $1,6 miliar.
Pada Agustus 2023, kedua bersaudara ini membeli saham di Skyline Builders melalui special purpose vehicle yang diatur oleh Dominari Securities. Pada September 2023, Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, memberitahu Donald Trump bahwa pemerintahnya berniat memberikan proyek tungsten besar kepada Cove Kaz Capital, sebuah entitas yang didukung pemerintah AS untuk bersaing dengan perusahaan pertambangan Cina dan Rusia.
Pada 21 Oktober 2023, berita mengenai proyek ini mulai tersebar di media. Pada 28 Oktober, Don Jr. dan Eric Trump menambahkan hampir $24 juta ke investasi Skyline mereka. Pada 31 Oktober, Skyline membayar $20 juta untuk mendapatkan 20% saham di Kaz Resources, anak perusahaan dari Cove Capital, perusahaan induk yang mengendalikan Cove Kaz.
Pada 6 November 2023, kesepakatan antara Cove Capital dan National Mining Company of Kazakhstan diumumkan secara resmi. Mereka sepakat untuk mengembangkan "sumber daya tungsten terbesar yang belum dikembangkan di dunia".
Pada Kamis, 9 November 2023, Cove Kaz Capital dan Kaz Resources mengumumkan merger dengan Skyline, perusahaan investasi milik kedua bersaudara Trump. Laporan dari Financial Times menyebutkan bahwa tidak ada penyebutan nama Trump dalam pengumuman merger tersebut.
Pernyataan dari Perwakilan Don Jr.
Seorang juru bicara Don Jr. membantah klaim bahwa ia memiliki pengetahuan tentang kesepakatan yang melibatkan ayahnya sebelum investasi awal atau merger.
"Don adalah investor pasif di American Ventures dan tidak terlibat dalam operasional perusahaan. Ia tidak berinteraksi dengan pemerintah federal atas nama perusahaan yang ia investasikan atau nasihati."
Juru bicara Don Jr. Trump
Keterlibatan Keluarga Trump dalam Proyek-Proyek Kontroversial
Keterlibatan Don Jr. dan Eric Trump dalam kontrak pemerintah dan proyek pertambangan ini menambah sorotan terhadap praktik bisnis keluarga Trump yang semakin kontroversial. Meskipun mereka mengklaim sebagai investor pasif, keterlibatan mereka dalam perusahaan-perusahaan yang mendapatkan kontrak besar menimbulkan pertanyaan tentang potensi konflik kepentingan.