Pengungsi Afgan Terjebak di Qatar Menanti Keputusan AS
Lebih dari empat tahun setelah Taliban mengambil alih Afghanistan, sekitar 1.100 pengungsi Afgan masih terkatung-katung di Kamp As Sayliyah (CAS), Qatar. Mereka adalah bagian dari program U.S. Refugee Admissions Program (USRAP) dan Special Immigrant Visa (SIV) yang dirancang untuk membantu para sekutu AS, termasuk anggota Komando Operasi Khusus Angkatan Darat Afganistan dan keluarga personel militer AS.
AS Berencana Pindahkan Mereka ke Kongo
Departemen Luar Negeri AS sebelumnya menawarkan insentif finansial kepada para pengungsi untuk kembali ke Afghanistan. Namun, rencana itu gagal karena situasi keamanan di sana masih tidak stabil. Pada Maret 2026, kamp CAS akan ditutup, memaksa AS mencari solusi alternatif.
Menurut laporan The New York Times, AS kini tengah bernegosiasi untuk memindahkan para pengungsi tersebut ke Republik Demokratik Kongo. Namun, keputusan ini menuai kontroversi karena Kongo dinilai sebagai negara dengan risiko kemanusiaan yang tinggi. Dalam peringkat International Rescue Committee 2026, Kongo menempati posisi ke-7 sebagai negara dengan risiko kemanusiaan terburuk, sementara Afghanistan tidak masuk dalam peringkat 10 besar.
Para Ahli: Rencana Ini Bukan Solusi yang Tepat
Shawn VanDiver, Presiden #AfghanEvac, menegaskan bahwa rencana pemindahan ke Kongo bukanlah solusi pemukiman kembali yang layak. Ia mengatakan, "Ini bukan rencana pemukiman. Pemukiman membutuhkan langkah hukum yang berkelanjutan, infrastruktur komunitas, dan pemerintah tuan rumah yang bersedia serta siap menerima."
"Keluarga-keluarga di CAS saat ini bukanlah orang yang tidak terverifikasi. Mereka adalah imigran sah yang paling terverifikasi di Amerika Serikat."
Finer menambahkan bahwa CAS dirancang untuk memenuhi komitmen perang AS. Ia menekankan bahwa sistem di CAS telah terbukti efektif selama bertahun-tahun dalam memproses ribuan sekutu Afgan dan keluarganya. Satu-satunya hambatan saat ini adalah keputusan kebijakan untuk melanjutkan proses tersebut.
Para Pengungsi Merasa Putus Asa
Seorang pria yang tengah mengajukan USRAP mengatakan ia merasa "bingung" dan "putus asa" mendengar rencana pemindahan ke Kongo. Ia telah menunggu selama bertahun-tahun untuk mendapatkan kepastian hidup di AS.
Sementara itu, International Refugee Assistance Project (IRAP) telah terlibat dalam pertempuran hukum melawan pemerintah AS sejak 2018 karena gagal memproses visa SIV sesuai dengan tenggat waktu sembilan bulan yang dijanjikan.
Dampak terhadap Kepercayaan AS di Mata Sekutu
Finer menekankan bahwa rencana ini akan merusak kepercayaan negara-negara lain terhadap komitmen AS. "Ini adalah strategi yang buruk bagi Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa kita tidak memenuhi janji, yang akan membuat orang enggan bergantung pada kita di masa depan," katanya.
Apakah Ada Solusi Alternatif?
Para pengamat menilai bahwa seharusnya AS dapat melanjutkan proses pemukiman kembali di CAS dengan kebijakan yang tepat. Saat ini, sistem di CAS sudah siap beroperasi, dan satu-satunya yang dibutuhkan hanyalah keputusan politik untuk melanjutkan.