AS Serangan dan Rebut Kapal Iran di Selat Hormuz
Amerika Serikat menyerang dan merebut kapal kargo berbendera Iran di Selat Hormuz pada Minggu (14/9). AS menyatakan kapal tersebut mencoba menghindari blokade laut yang diberlakukan sejak pekan lalu. Iran melalui Komando Militer Gabungan menyebut tindakan ini sebagai pembajakan dan pelanggaran gencatan senjata, demikian disampaikan oleh stasiun televisi negara.
Gencatan Senjata Terancam Gagal
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari sebelum gencatan senjata antara AS dan Iran berakhir pada Rabu (18/9). Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan akan mengadakan pembicaraan baru dengan Iran. Ia menyebut negosiator AS akan menuju Pakistan pada Senin (16/9). Namun, setelah serangan ini, tidak jelas apakah pembicaraan tersebut masih akan berlangsung.
Ketegangan di Selat Hormuz yang meningkat serta ketidakpastian ini mendorong kenaikan harga minyak. Ancaman krisis energi global yang sudah parah semakin dalam.
Trump Ungkap Detail Serangan
Melalui media sosial, Trump menjelaskan bahwa kapal perusak rudal AS di Teluk Oman telah memberikan peringatan kepada kapal Iran bernama Touska. Setelah kapal tidak berhenti, AS menembak dan melubangi ruang mesin kapal. Marinir AS saat ini memegang kendali atas kapal yang dikenai sanksi AS tersebut dan sedang memeriksa isinya.
Tidak ada laporan mengenai korban jiwa. Komando Pusat AS, yang tidak menjawab pertanyaan, menyatakan kapal perusak telah memberikan peringatan berulang selama enam jam sebelum tindakan diambil.
Iran Tuduh AS Melakukan Intimidasi
Media negara Iran melaporkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian dalam panggilan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyebut tindakan AS sebagai intimidasi dan perilaku tidak masuk akal. Pezeshkian menilai AS berpotensi mengulangi pola sebelumnya dengan mengkhianati diplomasi.
Dua upaya pembicaraan sebelumnya—pada Juni tahun lalu dan awal tahun ini—terputus akibat serangan Israel dan AS. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menyampaikan kepada rekan sejawatnya dari Pakistan bahwa pernyataan dan tindakan AS yang tidak konsisten menunjukkan niat buruk dan kurangnya keseriusan dalam diplomasi.
Persiapan Pembicaraan Baru di Pakistan
Pakistan belum mengkonfirmasi akan ada ronde kedua pembicaraan. Namun, pihak berwenang di sana telah meningkatkan keamanan di Islamabad. Seorang pejabat regional yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan persiapan sedang diselesaikan dan tim keamanan AS telah berada di lapangan. Pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim karena tidak diizinkan membahas persiapan dengan media.
Gedung Putih sebelumnya menyebut Wakil Presiden AS, JD Vance—yang memimpin ronde pertama pembicaraan selama 21 jam pekan lalu—akan memimpin delegasi AS ke Pakistan. Ia akan didampingi oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Iran Terima Usulan Baru, Tetapi Perbedaan Masih Lebar
Pada Sabtu (13/9), Iran menyatakan telah menerima usulan baru dari AS. Ketua negosiator Iran, Ketua Parlemen Mohammed Bagher Qalibaf, pada Sabtu malam mengatakan tidak akan ada pengurangan dalam diplomasi. Namun, ia mengakui masih terdapat jurang lebar antara kedua belah pihak.
Saat ini belum jelas apakah pembicaraan akan tetap dilanjutkan atau dibatalkan menyusul serangan tersebut.