Sebagai penggemar gulat profesional yang memadukan unsur redneck, anime, dan LARP (Live Action Role Playing), saya selalu terjebak dalam siklus naik-turun cinta dengan All Elite Wrestling (AEW) dan World Wrestling Entertainment (WWE). Ketika satu perusahaan melakukan kesalahan besar, perusahaan lain seolah-olah terlihat kompeten hanya karena tidak melakukan hal serupa. Namun, ada satu kebenaran yang tak terbantahkan yang mampu menyatukan para penggemar gulat di seluruh dunia: kedua perusahaan ini sama-sama buruk dalam mendesain kaos.

Jika Anda melihat koleksi kaos terbaru di toko resmi AEW atau WWE saat ini, saya bisa menjamin bahwa desainnya hanya terdiri dari tiga kategori: kaos klasik yang terinspirasi namun logo merusaknya, kaos dengan referensi spesifik yang terlalu rumit untuk dijadikan fashion, atau desain yang mencoba keras namun terlihat seperti karya pemula dengan logo dan slogan bertele-tele. Dengan harga yang ditawarkan, sebagian besar kaos ini tidak akan saya kenakan kecuali dalam keadaan darurat.

Setiap kali ada peluncuran merchandise baru, teman-teman saya dan saya saling mengirim pesan—bukan karena kaosnya terlihat keren, melainkan untuk saling tertawa melihat betapa jeleknya desain dibandingkan dengan yang sebelumnya. Bahkan di hari terbaiknya, kaos gulat sering kali mengikuti tren minimalis tanpa jiwa yang merajalela di jersey NBA modern, atau justru terlalu mengandalkan estetika meme internet sehingga terlihat kuno seketika tinta mengering. Kita berbicara tentang desain yang setara dengan kaos DBZ edgy dengan tingkat kegaringan yang tinggi.

Ketika sebuah desain berhasil menarik perhatian—seperti logo Bullet Club yang mendominasi komunitas gulat internasional pada tahun 2010—desain tersebut justru dipakai berlebihan hingga menjadi simbol yang dulu ikonik, kini hanya menjadi cerminan seseorang yang mungkin tidak ingin diajak berkumpul. Meskipun beberapa di antaranya lucu, saya tidak ingin menjelaskan alasan mengapa saya mengenakan kaos dengan tulisan 'Big, Black, and Jacked' atau 'Scissor Me, Daddy Ass' di dada saya.

Saya menulis ini bukan untuk menunjukkan kemampuan saya dalam mengkritik merchandise gulat melalui tulisan, melainkan untuk menyoroti masalah universal yang selama ini luput dari perhatian: kaos gulat profesional tidak dirancang untuk dikenakan oleh tubuh manusia. Desain-desain ini terasa dibuat untuk ditempel di dinding kamar mahasiswa, di samping poster film Pulp Fiction dan gulungan dinding Naruto yang dibeli di Chinatown, bukan untuk dipakai berjalan-jalan. Setengah dari desain tersebut bahkan akan terlihat lebih baik sebagai wallpaper desktop daripada sebagai pakaian.

Namun, perlu diakui, ada sedikit harapan. Beberapa desain terbaru mulai menunjukkan sentuhan yang lebih segar, meskipun masih jarang. Apakah ini pertanda perubahan? Atau akankah para penggemar terus menertawakan kaos-kaos yang tidak layak pakai ini? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Sumber: Aftermath