Elon Musk dan Sam Altman akan saling berhadapan di pengadilan dalam kasus sengketa mengenai misi OpenAI. Dalam gugatannya, Musk menuduh Altman secara ilegal mengubah OpenAI dari organisasi nirlaba menjadi perusahaan for-profit besar—perusahaan yang diperkirakan akan melantai di bursa saham musim panas ini dengan valuasi hampir $1 triliun.

Latar Belakang Perseteruan

Setelah Musk menggugat OpenAI pada 2024, perusahaan tersebut menyatakan bahwa para pendirinya menyadari sejak awal bahwa mereka membutuhkan dana besar untuk memperoleh daya komputasi dan sumber daya lain guna membangun AI. Untuk menarik investor, OpenAI terpaksa berubah menjadi perusahaan for-profit. Sementara itu, organisasi nirlaba yang kini disebut OpenAI Foundation membentuk OpenAI sebagai anak perusahaan.

OpenAI mengklaim pada Desember 2024 bahwa pada 2017, Musk menyetujui perubahan menjadi for-profit, tetapi menuntut kontrol mutlak sebagai satu-satunya CEO serta penggabungan dengan Tesla. Setelah perebutan kekuasaan dengan Altman pada 2018 untuk mengambil alih OpenAI, Musk meninggalkan dewan perusahaan. OpenAI menyatakan bahwa Musk keluar untuk menghindari konflik kepentingan sebagai CEO Tesla.

Musk kini menuntut agar miliaran dolar yang dihasilkan perusahaan for-profit dikembalikan ke OpenAI Foundation. Ia juga meminta Altman dikeluarkan dari kepemimpinan baik di organisasi for-profit maupun nirlaba.

Perubahan Misi OpenAI: Dari Nirlaba Menuju Korporasi

OpenAI didirikan pada 2015 oleh Musk, Altman, dan sembilan orang lainnya. Musk dan Altman diangkat sebagai ketua bersama, dan pada hari peluncurannya, organisasi nirlaba tersebut menyatakan tujuannya untuk memajukan kecerdasan digital demi kepentingan umat manusia tanpa terikat pada kebutuhan menghasilkan keuntungan finansial.

Dalam piagam 2018, perusahaan berjanji untuk tidak fokus pada pengembangan model AI sendiri, melainkan membantu proyek lain jika ada kelompok yang dianggap selaras nilai dan sadar akan keamanan mendekati pencapaian AGI (Artificial General Intelligence) sebelum OpenAI. Namun, kondisi saat ini jauh berbeda. OpenAI kini memiliki pusat data yang boros energi, chatbot yang terlibat dalam insiden tembak-menembak massal, serta, menurut wartawan teknologi Karen Hao pada 2025, dinilai sebagai ancaman terbesar terhadap demokrasi yang pernah ada.

Tak hanya itu, OpenAI juga menjalin kesepakatan dengan Pentagon untuk menyediakan teknologinya untuk kepentingan militer. Setelah mendapat kecaman dari pengguna, Sam Altman menulis di platform X (sebelumnya Twitter) bulan lalu bahwa mereka akan merevisi perjanjian tersebut untuk tidak digunakan secara sengaja untuk pengawasan domestik warga AS.

"Kami telah bekerja sama dengan Departemen Pertahanan untuk menambahkan beberapa poin dalam perjanjian kami guna memperjelas prinsip-prinsip kami."
— Sam Altman (@sama), 3 Maret 2026

Dari Misi Kemanusiaan Menuju Kekacauan Teknologi

OpenAI telah berubah dari organisasi yang berupaya memberikan manfaat bagi umat manusia menjadi perusahaan yang justru menimbulkan masalah yang harus ditanggung oleh masyarakat. Baru-baru ini, perusahaan tersebut merilis 13 halaman gagasan ambisius mengenai langkah-langkah keamanan AI seiring dengan perkembangan teknologi yang melampaui kemampuan manusia.