Shōji Kawamori, legenda di balik seri anime legendaris Macross dan waralaba Transformers, kini meluncurkan film pertamanya dalam empat dekade terakhir. Lewat karya berjudul Labyrinth, Kawamori mencoba menyampaikan pesan kritis terhadap media sosial, namun sayangnya, hasilnya terasa kurang memuaskan. Film ini mengikuti perjalanan Shiori Maezawa (Suzuka), seorang remaja yang tidak percaya diri dan bercita-cita menjadi influencer.

Ketika Shiori membuat video tari bersama temannya yang populer, Kirara (Aoi Itō), ia terjatuh dan video tersebut tetap diunggah tanpa izin. Akibatnya, Shiori menjadi bahan olok-olok publik. Tekanan mental yang ia rasakan begitu berat hingga ponselnya seolah retak dengan sendirinya. Ia pun terjebak dalam dimensi digital yang kosong, di mana ia hanya dikelilingi oleh stiker-stiker tanpa makna.

Di dunia nyata, versi lain dari Shiori yang bernama Shiori@Revolution justru hidup dengan sempurna. Dengan rambut berwarna-warni dan kepribadian ekstrover, ia meraih popularitas luar biasa. Konsep film ini mengajukan pertanyaan menarik: apa yang terjadi jika seseorang terlalu banyak membagikan kehidupannya di media sosial, hingga tercipta alter ego digital yang lebih 'hidup' daripada dirinya sendiri?

Sayangnya, Labyrinth gagal menyampaikan pesan tersebut dengan efektif. Cerita terasa dangkal dan terlalu banyak menyoroti isu media sosial tanpa kedalaman karakter atau pengembangan plot yang memadai. Meskipun konsepnya menarik, eksekusi film ini terasa kurang tajam, seolah-olah Kawamori lebih fokus pada kritik sosial daripada membangun narasi yang kuat.

Bagi penggemar karya-karya Kawamori sebelumnya, Labyrinth mungkin terasa mengecewakan. Namun, bagi penonton yang mencari tontonan ringan dengan tema media sosial, film ini bisa menjadi pilihan. Sayangnya, film ini tidak meninggalkan kesan mendalam seperti karya-karya besar Kawamori di masa lalu.

Sumber: The Wrap