Budaya penurunan berat badan di Amerika Serikat bukanlah hal baru. Obsesi masyarakat terhadap tubuh kurus telah menjadi lebih dari sekadar ideal sosial—hampir seperti agama. Namun, di negara yang menjunjung tinggi kerja keras sebagai jalan menuju kesuksesan, revolusi penurunan berat badan cepat melalui obat-obatan GLP-1—tanpa melalui proses 'tanpa kerja keras, tidak ada hasil'—ternyata menimbulkan kontroversi.
Temuan ini didukung oleh studi terbaru dari Universitas Rice yang diterbitkan bulan lalu di International Journal of Obesity. Meskipun obat-obatan GLP-1 seperti Ozempic, Wegovy, dan Zepbound terbukti efektif dan banyak dipuji karena hasilnya yang dramatis, masyarakat tetap menilai pengguna obat ini secara negatif—terutama jika berat badan mereka naik kembali setelah berhenti mengonsumsi obat.
Stigma yang melekat
Masyarakat Amerika memang menginginkan tubuh kurus—hampir setara dengan keinginan untuk menjadi kaya—namun hubungan mereka dengan berat badan selalu bersifat ambivalen. Di negara dengan 72% penduduk dewasa mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, pencarian 'solusi ajaib' untuk masalah ini telah melahirkan industri penurunan berat badan bernilai miliaran dolar selama beberapa dekade.
Namun, studi ini mengungkap stigma khusus bagi mereka yang menurunkan berat badan melalui obat GLP-1—seringkali dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat—lalu mengalami kenaikan berat badan kembali setelah berhenti mengonsumsi obat.
Para peneliti meminta partisipan untuk mengevaluasi orang-orang yang menurunkan berat badan dengan obat GLP-1 dibandingkan dengan mereka yang menggunakan diet dan olahraga, atau bahkan mereka yang tidak menurunkan berat badan sama sekali. Hasilnya mengejutkan: pengguna GLP-1 justru menerima penilaian yang lebih keras dibandingkan mereka yang menurunkan berat badan melalui diet dan olahraga.
Yang lebih mengejutkan lagi, mereka menilai pengguna obat GLP-1 lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak menurunkan berat badan sama sekali.
"Kami menduga akan ada stigma terhadap penggunaan GLP-1," kata Erin Standen, salah satu penulis studi dan profesor psikologi di Universitas Rice, dalam siaran pers. "Namun, yang mengejutkan kami adalah seberapa besar stigma tersebut."
Kesimpulannya, menggunakan obat GLP-1 ternyata dapat menimbulkan stigma yang lebih besar dibandingkan dengan tidak menurunkan berat badan sama sekali—yang oleh para peneliti disebut sebagai 'Paradoks GLP-1'. Temuan ini menyoroti realitas yang kompleks: stigma tidak hilang dengan penurunan berat badan, melainkan hanya berubah bentuknya.