Konflik Iran Picu Kenaikan Harga Solar yang Tak Terduga

Sejak serangan bom di Timur Tengah dimulai, harga solar—bahan bakar yang krusial bagi perekonomian—melonjak jauh lebih tinggi dibandingkan bensin. Data terbaru menunjukkan dampaknya yang luas, bahkan melebihi kenaikan harga minyak secara umum.

Strait of Hormuz Ditutup, Harga Minyak Naik

Iran menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, menyebabkan lonjakan harga instan. Meskipun negosiasi damai gagal, harga minyak kembali meningkat. Konflik ini juga menguntungkan Rusia, yang menikmati keuntungan besar dari kenaikan harga bahan bakar global.

Menurut peneliti dari Universitas Brown, perang telah membebani konsumen dengan tambahan biaya bahan bakar senilai $19 miliar sejak dimulai pada 28 Februari. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya—$9,4 miliar—disebabkan oleh kenaikan harga solar.

Dampak yang Lebih Luas dari yang Terlihat

Meskipun banyak orang fokus pada harga bensin, kenaikan harga solar memiliki dampak yang lebih dalam. Solar tidak hanya digunakan untuk kendaraan pribadi, tetapi juga untuk operasional komersial seperti truk, kereta api, pertanian, dan konstruksi. Hampir semua barang di Amerika Serikat melalui rantai pasokan solar, sehingga kenaikan biaya akan berujung pada konsumen akhir.

"Anda mungkin merasakan dampaknya tanpa menyadarinya," kata Jeff Colgan, ilmuwan politik dari Universitas Brown yang mengembangkan alat pelacakan dampak kenaikan harga minyak. "Diesel adalah bahan bakar yang menggerakkan perekonomian lebih dari bensin."

Perbedaan Permintaan: Bensin vs Solar

Permintaan bensin lebih elastis—saat harganya naik, masyarakat bisa mengurangi konsumsi. Namun, industri yang bergantung pada solar tidak memiliki pilihan itu. Patrick De Haan, kepala analisis minyak di GasBuddy, menjelaskan bahwa setiap barel minyak menghasilkan lebih sedikit solar dibandingkan bensin, sehingga kenaikannya lebih tajam.

Data Universitas Brown menunjukkan harga solar naik 54% sejak perang dimulai, sementara bensin hanya naik 38%.

Musim Dingin Memperparah Krisis

Ketika serangan bom terhadap Iran dimulai, sebagian besar wilayah Amerika Serikat baru saja melewati musim dingin panjang di New England, tempat sebagian besar minyak pemanas dikonsumsi. Minyak pemanas dan solar memiliki struktur molekul serta kandungan energi yang hampir identik, sehingga tekanan musiman terhadap harga sudah ada sebelum perang memicunya lebih tinggi.

De Haan menambahkan, "Musim dingin yang panjang telah meningkatkan permintaan minyak pemanas, dan perang semakin memperburuk situasi. Akibatnya, harga solar melonjak lebih cepat daripada yang diperkirakan."

Siapa yang Paling Diuntungkan?

Selain Rusia, negara-negara produsen minyak lainnya juga meraup keuntungan besar dari krisis ini. Sementara itu, konsumen dan bisnis di Amerika Serikat harus menanggung beban biaya tambahan yang signifikan.

Langkah Selanjutnya: Apa yang Bisa Dilakukan?

Para ahli mendesak pemerintah untuk mencari solusi jangka panjang, termasuk diversifikasi sumber energi dan pengembangan bahan bakar alternatif. Sementara itu, masyarakat diharapkan dapat menyesuaikan pola konsumsi untuk mengurangi dampak kenaikan harga.