Jajak pendapat terbaru dari Fox News menunjukkan angka persetujuan Donald Trump terhadap kinerja ekonominya hanya 34%, sementara 66% responden menyatakan ketidaksetujuan. Angka ini mencerminkan penolakan yang sangat luas terhadap kebijakan ekonominya, terutama dalam mengatasi inflasi.

Selain itu, survei tersebut juga mengungkapkan bahwa Demokrat kini memiliki keunggulan atas Partai Republik dalam isu ekonomi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Temuan ini menjadi sinyal buruk bagi Trump menjelang pemilihan umum, terutama karena ekonomi menjadi salah satu isu utama yang diandalkannya untuk memenangkan pemilu 2024.

Menurut analis politik G. Elliott Morris, yang menjalankan Substack Strength in Numbers, angka-angka Trump dalam survei ini sebanding dengan masa terburuk yang dialami Joe Biden selama krisis inflasi pada 2022 hingga 2023. Morris menjelaskan bahwa Trump mencatatkan net approval rating minus 32 untuk kinerja ekonominya, sebuah angka yang sama buruknya dengan Biden saat inflasi mencapai puncaknya.

Lebih lanjut, Morris menyebutkan bahwa Trump juga mencatatkan net approval rating minus 44 dalam survei Fox News terkait penanganan inflasi. Angka ini hampir sejalan dengan hasil survei internalnya yang menunjukkan minus 46. Dengan kata lain, hampir tiga perempat masyarakat menilai buruk kinerja Trump dalam mengendalikan inflasi.

Temuan ini semakin menekan Trump, yang diketahui tengah mempertimbangkan pembersihan besar-besaran terhadap staf seniornya. Para petinggi partainya juga terlihat gencar mencari strategi untuk menghadapi pemilihan paruh waktu (midterm) yang akan datang. Kondisi ini menunjukkan bahwa Trump sadar dirinya tengah menghadapi tekanan politik yang signifikan.

Survei Fox News ini menjadi bukti bahwa kinerja ekonomi Trump tidak hanya gagal memenuhi harapan publik, tetapi juga berpotensi melemahkan posisinya di hadapan pemilih menjelang pemilu berikutnya.