Selat Hormuz: Kunci Pasokan Minyak Global Terancam

Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak terpenting di dunia, belum akan kembali normal dalam waktu dekat. Laporan Pentagon yang disampaikan kepada anggota Kongres pada Selasa (20/8) menyebutkan, pembersihan ranjau yang ditanam militer Iran bisa memakan waktu hingga enam bulan. Hal ini menandakan bahwa pemulihan pasokan minyak global akan tertunda signifikan.

Perang Iran Picu Krisis Energi dan Ekonomi

Sejak perang di Iran pecah pada akhir Februari, harga minyak mentah Brent melonjak drastis. Pada bulan lalu, harga mencapai puncaknya di angka $108 per barel, naik dari sekitar $65 per barel sebelum perang. Saat ini, harga masih bertahan di kisaran $101 per barel, menekan ekonomi global dan memperlambat perdagangan internasional.

Lebih dari itu, perang ini juga memicu ketidakpastian di pasar energi. Para ahli memperingatkan, jika konflik berlanjut tanpa solusi diplomatik, dampaknya terhadap ekonomi global bisa berlangsung hingga akhir tahun atau bahkan lebih lama.

Dukungan Publik terhadap Trump Menurun akibat Perang

Perang Iran telah menimbulkan ketidakpuasan luas terhadap Presiden Donald Trump. Survei terbaru oleh Politico menunjukkan, hanya 41% warga Amerika yang yakin Trump memiliki rencana untuk mengakhiri perang. Bahkan, 20% di antaranya adalah pendukung setia Trump sendiri.

Ketidakpopuleran perang ini juga memecah gerakan Make America Great Again (MAGA). Beberapa tokoh media sayap kanan, seperti Tucker Carlson dan Alex Jones, secara terbuka menentang kebijakan luar negeri Trump. Mereka menuding presiden telah mengkhianati janji kampanyenya dan mendukung perang yang tidak perlu.

Trump membalas dengan serangan langsung di media sosial, bahkan meminta para pengkritiknya untuk “tutup mulut”.

Dukungan untuk Impeachment Meningkat

Sebuah jajak pendapat oleh Strength in Numbers menunjukkan, mayoritas publik Amerika mendukung upaya impeachment terhadap Trump. Bahkan, satu dari lima pendukungnya pun setuju dengan langkah tersebut. Hal ini mencerminkan semakin melemahnya posisi politik Trump menjelang pemilu November.

Kebijakan Trump di Iran: Tujuan yang Tak Jelas

Trump awalnya menyatakan tujuan utama perang adalah untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran. Namun, klaim tersebut dipertanyakan setelah serangan udara pada Juni lalu hanya menghantam tiga situs nuklir Iran—Fordo, Natanz, dan Isfahan. Pada saat itu, pemerintah Trump mengklaim serangan tersebut telah menunda program nuklir Iran selama bertahun-tahun.

Klaim tersebut kini dipertanyakan. Joe Kent, mantan Direktur Pusat Kontra Terorisme Nasional, mengundurkan diri bulan lalu karena tidak dapat mendukung perang ini. Dalam surat pengunduran dirinya, ia menulis,

“Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi Amerika Serikat. Perang ini dimulai karena tekanan dari Israel dan lobi kuatnya di AS.”

Dampak Kemanusiaan: Ribuan Warga Sipil Tewas

Dalam tujuh minggu sejak perang dimulai, AS dan Israel telah menewaskan ribuan warga sipil Iran. Konflik yang tidak mendapatkan persetujuan Kongres ini telah menimbulkan krisis kemanusiaan dan memperburuk ketegangan regional.

Para pengamat memperingatkan, jika tidak ada solusi diplomatik segera, dampak perang tidak hanya terbatas pada ekonomi, tetapi juga stabilitas politik global.