Lemak Perut Lebih Berbahaya daripada BMI
Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa lemak perut berlebih lebih kuat hubungannya dengan peningkatan risiko gagal jantung dibandingkan dengan berat badan atau indeks massa tubuh (BMI).
Menurut para peneliti, lemak abdominal berkontribusi terhadap peradangan sistemik yang membahayakan kesehatan kardiovaskular. Mereka merekomendasikan agar tenaga medis mengukur lingkar pinggang dan tingkat peradangan untuk mengidentifikasi individu yang berisiko mengalami kondisi jantung.
Peran Peradangan dalam Risiko Gagal Jantung
Studi ini menemukan bahwa peradangan sistemik menjadi faktor kunci dalam hubungan antara lemak perut dan risiko penyakit jantung. Para peneliti memperkirakan bahwa 25 hingga 33 persen dari hubungan tersebut dijelaskan oleh peradangan.
Temuan ini menunjukkan bahwa mengurangi peradangan dapat menjadi strategi pengobatan potensial untuk menurunkan risiko gagal jantung pada orang dengan lemak perut berlebih.
Temuan Penting dari Konferensi Ilmiah
Penelitian ini belum dipublikasikan dalam jurnal peer-review, namun akan dipresentasikan pada American Heart Association’s EPI/Lifestyle Scientific Sessions 2026 di Boston, tanggal 17–20 Maret 2026. Para peneliti berharap analisis mereka dapat mendorong pendekatan baru dalam pemantauan kesehatan jantung.
"Penelitian ini membantu kami memahami mengapa beberapa orang mengalami gagal jantung meskipun memiliki berat badan yang tampaknya sehat," kata Szu-Han Chen, penulis utama studi dan mahasiswa kedokteran di National Yang Ming Chiao Tung University, Taiwan. "Dengan memantau ukuran pinggang dan peradangan, klinisi dapat mengidentifikasi orang dengan risiko lebih tinggi sejak dini dan fokus pada strategi pencegahan untuk mengurangi kemungkinan gagal jantung sebelum gejala muncul."
Hubungan Lemak Perut, Peradangan, dan Kesehatan Jantung
Penelitian ini mengikuti pernyataan ilmiah yang dikeluarkan oleh American Heart Association (AHA) pada Mei 2025. Dalam pernyataan tersebut, para ahli menjelaskan bahwa peradangan dalam tubuh dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh, merusak pembuluh darah, dan menyebabkan penumpukan jaringan parut di jantung.
AHA juga meluncurkan Systematic Inflammation Data Challenge untuk mendorong kolaborasi dalam memahami kontribusi peradangan terhadap penyakit jantung dan kondisi terkait.
Pendapat Ahli tentang Temuan Baru
Para ahli yang tidak terlibat dalam studi ini mengakui pentingnya temuan ini. Kevin Shah, MD, seorang ahli jantung dan direktur program Heart Failure Outreach di MemorialCare Heart Vascular Institute, Long Beach Medical Center, California, menyatakan:
"Studi ini memperkuat konsep penting dalam kardiologi: di mana lemak disimpan dalam tubuh mungkin lebih penting daripada berat badan total saja. Salah satu pelajaran praktis dari studi ini adalah klinisi dan pasien mungkin perlu lebih memperhatikan lingkar pinggang dan obesitas sentral, karena ukuran tersebut dapat mengungkap risiko kardiovaskular bahkan pada individu yang BMI-nya tampak normal."
Mir Ali, MD, seorang ahli bedah bariatrik dan direktur medis di MemorialCare Surgical Weight Loss Center, Orange Coast Medical Center, California, juga menyetujui temuan ini.
"Ini adalah studi yang kuat dan sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa obesitas sentral atau truncal menimbulkan risiko lebih besar untuk penyakit kardiovaskular dibandingkan obesitas perifer."
Rekomendasi untuk Pencegahan
Para ahli menyarankan agar masyarakat lebih memperhatikan lingkar pinggang sebagai indikator risiko kesehatan jantung, bukan hanya BMI. Pemeriksaan rutin dan pengelolaan peradangan dapat menjadi langkah penting untuk mencegah gagal jantung.