Mahkamah Agung Amerika Serikat (SCOTUS) secara resmi menunda keputusan yang berpotensi besar menghentikan akses terhadap pil aborsi mifepristone melalui telemedis dan pengiriman pos. Keputusan singkat yang dikeluarkan pada Kamis malam ini memberikan jeda sementara terhadap upaya pengadilan banding federal untuk membatasi distribusi obat tersebut.
Dengan keputusan ini, mifepristone tetap dapat diresepkan secara daring dan dikirim melalui pos, bahkan ke pasien di negara bagian yang melarang aborsi. Keputusan ini disambut baik oleh pasien, penyedia layanan kesehatan, dan aktivis hak aborsi yang selama ini berada dalam ketidakpastian sejak Mei lalu.
Latar belakang perselisihan hukum
Pada 1 Mei, Pengadilan Banding Sirkuit Kelima yang berhaluan konservatif menerbitkan perintah yang menangguhkan aturan FDA era Biden. Aturan tersebut memungkinkan pengiriman mifepristone melalui pos tanpa kunjungan tatap muka. Hakim Samuel Alito sempat menunda penerapan perintah tersebut selama 10 hari untuk memberi waktu kepada Mahkamah Agung menilai kasus yang berpotensi menjadi monumental dan sangat politis ini.
Sejak putusan Dobbs pada 2022 yang membatalkan Roe v. Wade, lebih dari selusin negara bagian yang didominasi Partai Republik telah memberlakukan undang-undang ketat atau larangan total terhadap aborsi. Namun, dalam empat tahun terakhir, jumlah aborsi justru meningkat di seluruh AS, termasuk di negara bagian yang hampir sepenuhnya melarang prosedur tersebut.
Argumen negara bagian konservatif
Negara bagian seperti Louisiana menggugat FDA pada akhir tahun lalu, dengan tuduhan bahwa perubahan aturan 2023 yang menghapus persyaratan resep tatap muka bersifat sewenang-wenang dan didasarkan pada kepentingan politik, bukan sains. Mereka berpendapat bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk melemahkan dampak Dobbs dengan mempertahankan akses terhadap aborsi.
Pada Kamis, Hakim Alito—yang menulis putusan Dobbs—bersama satu hakim lainnya mendukung penerapan perintah Pengadilan Banding Kelima. Hal ini berpotensi memutus pasokan mifepristone melalui pos ke negara bagian seperti Louisiana, tempat penyedia layanan telemedis mengirimkan hampir 1.000 paket pil aborsi setiap bulannya.
Alito mengecam keputusan rekan-rekannya untuk menunda perintah tersebut sebagai tindakan yang "tidak beralasan" dan "luar biasa". Ia juga menyerang undang-undang perlindungan negara bagian liberal yang melindungi penyedia layanan telemedis yang merawat pasien di negara bagian dengan larangan aborsi, menyebutnya sebagai "skema" untuk melemahkan Dobbs.
Sementara itu, Hakim Clarence Thomas membangkitkan kembali Comstock Act, undang-undang era Victoria yang melarang pengiriman obat melalui pos untuk tujuan aborsi. Thomas menyarankan bahwa produsen mifepristone, Danco Laboratories dan GenBioPro Inc., terlibat dalam "usaha kriminal". Ia berpendapat bahwa aturan saat ini bertentangan dengan semangat Dobbs yang mengembalikan otoritas pengaturan aborsi kepada negara bagian.
Dampak keputusan SCOTUS
Keputusan Mahkamah Agung untuk menunda perintah Pengadilan Banding Kelima memberikan kepastian sementara bagi jutaan perempuan yang mengandalkan pil aborsi. Sekitar dua pertiga aborsi di AS saat ini dilakukan dengan menggunakan pil aborsi, dan hampir 30% di antaranya melalui layanan telemedis.
Para pengamat hukum dan aktivis hak-hak reproduksi menyoroti bahwa keputusan ini menunjukkan keragaman pandangan di antara hakim konservatif mengenai isu aborsi, meskipun mayoritas tetap mendukung pembatasan akses. Kasus ini kemungkinan akan terus bergulir di pengadilan, dengan implikasi besar bagi kebijakan kesehatan reproduksi di masa depan.