Mahkamah Agung Virginia secara resmi membatalkan hasil referendum redistriking negara bagian tersebut. Referendum yang disetujui dengan selisih tipis oleh pemilih bulan lalu kini tidak berlaku lagi setelah pengadilan menyatakan langkah tersebut tidak konstitusional.
Keputusan ini menjadi titik balik dalam salah satu pertarungan redistriking paling diperhatikan di Amerika Serikat. Mahkamah Agung menyatakan bahwa proses referendum melanggar konstitusi negara bagian, sehingga peta kongres baru yang diusulkan tidak dapat diberlakukan.
Dampak terhadap Peta Kongres dan Politik Virginia
Peta kongres yang baru, yang semula direncanakan berlaku untuk pemilu November mendatang, diperkirakan akan mengubah komposisi kongres Virginia dari 6 kursi Demokrat berbanding 5 kursi Republik menjadi 10 kursi Demokrat berbanding 1 kursi Republik. Perubahan ini berpotensi mengubah peta politik negara bagian yang selama ini menjadi ajang persaingan sengit antara kedua partai besar.
Demokrat di Virginia berargumen bahwa langkah redistriking ini diperlukan untuk menyeimbangkan pengaruh redistriking yang dilakukan oleh negara bagian yang dikuasai Partai Republik di seluruh Amerika Serikat. Mereka menilai bahwa upaya tersebut bertujuan untuk menambah kursi bagi Partai Republik di Dewan Perwakilan Rakyat AS yang sangat terbagi.
Sementara itu, Partai Republik menentang keras langkah ini. Mereka menyebut referendum redistriking sebagai tindakan ekstrem, ilegal, dan sangat partisan. Partai Republik telah menggugat upaya tersebut sejak awal, dengan alasan bahwa prosesnya melanggar prosedur konstitusional.
Perselisihan Hukum atas Makna 'Pemilu Umum Berikutnya'
Salah satu poin krusial dalam perselisihan hukum ini adalah penafsiran terhadap frasa 'pemilu umum berikutnya' dalam konstitusi Virginia. Menurut undang-undang negara bagian, amendemen konstitusi harus melalui dua sesi Majelis Umum: satu sebelum pemilu anggota DPR (November lalu) dan satu sesi setelahnya.
Partai Republik berpendapat bahwa legislatif telah melanggar prosedur dengan memajukan amendemen setelah pemungutan suara awal dimulai. Di sisi lain, Demokrat berargumen bahwa 'pemilu' merujuk pada hari pemungutan suara pada bulan November, sebuah penafsiran yang menurut beberapa hakim agung tampak diragukan.
Keputusan Mahkamah Agung untuk membatalkan hasil referendum warga negara merupakan langkah yang jarang terjadi. Namun, sejarah mencatat bahwa hal serupa pernah terjadi pada tahun 1958. Pada saat itu, Mahkamah Agung Virginia membatalkan hasil pemilu tahun 1956 karena dinyatakan melanggar konstitusi.
Potensi Banding ke Mahkamah Agung AS
Jika Demokrat memutuskan untuk mengajukan banding ke Mahkamah Agung AS, hal ini tidak akan menjadi pertama kalinya sengketa pemilu Virginia sampai ke tingkat federal. Pada tahun 2024, Jaksa Agung sebelumnya, Jason Miyares, memenangkan putusan Mahkamah Agung AS yang memungkinkan Virginia melanjutkan program pembersihan daftar pemilih hanya beberapa hari sebelum Hari Pemilu.
Para pengamat politik kini menantikan langkah selanjutnya dari Demokrat. Apakah mereka akan melanjutkan perlawanan hukum atau menerima keputusan Mahkamah Agung Virginia sebagai akhir dari pertarungan ini.
Catatan redaksi: Artikel ini masih berkembang. Kunjungi kembali untuk pembaruan lebih lanjut.
Lebih dalam: Referendum redistriking Virginia mencetak rekor pengeluaran dana kampanye