China: Laboratorium AI yang Mengubah Dunia
Beberapa waktu lalu, sekitar 50 orang berkumpul di depan kantor pusat perusahaan internet ternama di Beijing. Mereka antre untuk mendapatkan bantuan menginstal asisten kecerdasan buatan (AI).
Kondisi serupa terulang di berbagai kota seperti Shenzhen, selatan China, pada Maret lalu. Para insinyur membantu masyarakat mengoperasikan OpenClaw, salah satu AI "agen" populer yang digunakan untuk berbagai keperluan, seperti mengelola resume pekerjaan.
"Saya khawatir tertinggal dalam perkembangan teknologi," kata Sun Lei, seorang manajer sumber daya manusia berusia 41 tahun. Ia berharap AI dapat membantunya menyeleksi lamaran pekerjaan dari berbagai platform.
AI Merambah Kehidupan Sehari-hari Masyarakat China
Lebih dari setahun setelah DeepSeek, saingan China bagi OpenAI, meluncurkan model AI canggih, negara ini kini menjadi pusat uji coba penggunaan AI secara masif. Meskipun model AI asal Amerika Serikat masih unggul dalam hal komputasi mentah, masyarakat dan bisnis di China telah dengan cepat mengadopsi teknologi ini.
AI kini digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari pemesanan perjalanan, pemesanan makanan, hingga pemesanan taksi. Pada Desember 2024, lebih dari 600 juta penduduk China—atau sekitar 43% dari total populasi—telah menggunakan AI generatif. Angka ini meningkat 142% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut laporan China Internet Network Information Center.
Konsumsi Data AI China Melampaui Amerika Serikat
Penggunaan AI "agenik" seperti OpenClaw semakin meluas, termasuk di kalangan bisnis China. Hal ini menyebabkan lonjakan konsumsi data oleh model AI. Berdasarkan data OpenRouter, platform yang melacak penggunaan AI lintas model, penggunaan token mingguan oleh model AI China kini telah melampaui model AI Amerika Serikat.
AI dalam Kehidupan Sehari-hari: Dari Kesehatan hingga Transportasi
Jason Tong, seorang pensiunan berusia 64 tahun di Shanghai yang sebelumnya bekerja sebagai insinyur IT, telah menggunakan chatbot AI seperti Doubao dan Kimi sejak pertama kali diluncurkan beberapa tahun lalu. Ia kini memanfaatkan layanan pemantauan kadar gula darah berbasis AI yang memberikan saran kesehatan personal.
"Saya merasa respons yang cepat dan personal dari AI sangat membantu," ujarnya. Tong yakin adopsi AI dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dihindari. "Seperti kereta menggantikan kereta kuda, AI pasti akan menggantikan banyak hal," katanya.
Produk-produk AI China, mulai dari mobil hingga robot, kini semakin canggih. Ada robot humanoid dengan kemampuan kognitif tinggi dan sistem AI untuk pengemudi yang dapat melakukan tugas kompleks seperti membuat reservasi restoran.
"Persaingan AI kini bergeser dari model ke ekosistem. Pengguna China bertindak sebagai penguji skala besar secara real-time."
Perusahaan Teknologi China Beradu untuk Komersialisasi AI
Perusahaan-perusahaan besar seperti Tencent, Alibaba, dan Baidu berlomba-lomba untuk mengomersialkan AI. Mereka berinvestasi besar dalam pengembangan model AI dan integrasi ke dalam berbagai layanan digital.
Dengan adopsi AI yang begitu masif, China tidak hanya membentuk masa depan teknologi di dalam negeri, tetapi juga berpotensi memengaruhi standar global dalam penggunaan AI.