Ketika alam semesta diciptakan, manusia adalah salah satu makhluk yang paling merusak. Setiap pencapaian besar, cerita inspiratif, hingga secangkir kopi yang dinikmati, semuanya lahir dari eksploitasi alam yang tak terhitung. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa tetap menatap orang lain atau merasa bangga berpartisipasi dalam dunia yang setiap tindakannya merugikan planet yang melahirkan kita?

Seorang pembaca mengungkapkan keresahannya dalam kolom saran Your Mileage May Vary, yang didasarkan pada pluralisme nilai—gagasan bahwa setiap orang memiliki nilai-nilai yang sah namun sering kali saling bertentangan. Pertanyaan tersebut disampaikan secara anonim dan telah diedit untuk kejelasan:

"Kita mengaku mencintai alam, tapi setiap pencapaian besar, setiap cerita, dan setiap cangkir kopi hanya menguntungkan diri kita sendiri. Ketika keberadaan manusia mengorbankan segala sesuatu yang lain, ketika hipokrisi ini terbuka dan kita semua tahu... Bagaimana saya bisa menatap siapa pun dengan kepala tegak atau merasa baik dengan berpartisipasi dalam dunia di mana setiap tindakan manusia merugikan alam yang telah melahirkan kita? Saya telah kehilangan semangat. Saya sadar ini terdengar kekanak-kanakan. Tapi angka-angka sudah jelas, dan saya tidak lagi yakin apa yang kita lakukan sebagai spesies selain menciptakan konsumen sempurna, dengan mengorbankan dunia. Kita kecanduan pada 'diri sendiri', dan jujur saja, saya merasa jijik menjadi manusia."

Pertanyaan ini menyentuh inti dari fenomena anti-manusia, sebuah sikap yang semakin marak di tengah krisis iklim yang diciptakan manusia sendiri.

Mengapa Kita Merasa Jijik terhadap Diri Sendiri?

Di balik perasaan jijik, marah, atau benci terhadap manusia, sering kali tersembunyi emosi yang lebih lembut: kekecewaan, kesedihan, dan ketakutan akan masa depan. Sulit untuk bertahan dengan perasaan-perasaan ini karena membuat kita rentan. Lebih mudah bagi kita untuk melompati emosi tersebut dan langsung menuju kebencian. Menghakimi sesama manusia mungkin tidak menyenangkan, tapi hal itu memberi kita perasaan superioritas moral. Tak mengherankan jika sepanjang sejarah, banyak orang yang memandang spesies manusia dengan rasa jijik.

Sejak abad ke-17 SM, manusia telah memproyeksikan rasa jijik terhadap diri sendiri kepada para dewa. Kita membayangkan bahwa para dewa menganggap kita begitu buruk sehingga banjir besar diperlukan untuk menghapus kita dari muka bumi. Hanya segelintir manusia yang dianggap layak diselamatkan, seperti keluarga Atraḥasis dalam versi Mesopotamia atau keluarga Nuh dalam Alkitab. Sejak saat itu, anti-humanisme terus muncul silih berganti, terutama di masa-masa bencana skala peradaban.

Sejarah Anti-Manusia: Dari Wabah hingga Perang

  • Abad ke-14: Wabah Maut di Eropa menewaskan sepertiga penduduk dan memicu pertanyaan tentang kemanusiaan.
  • Abad ke-17: Perang agama di Eropa mempertanyakan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
  • Abad ke-20: Era nuklir membawa ketakutan akan kehancuran massal, memicu kembali pemikiran anti-manusia.

Kini, di tengah krisis iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia, anti-humanisme kembali naik daun. Gerakan lingkungan yang vokal bahkan menyambut baik hilangnya Homo sapiens yang merusak. Salah satu contohnya adalah Gerakan Kepunahan Manusia Sukarela, yang mendorong manusia untuk berhenti berkembang biak demi menghentikan kerusakan lingkungan.

Bagaimana Menghadapi Perasaan Kecewa terhadap Manusia?

Alih-alih terjebak dalam kebencian, cobalah untuk memahami akar dari perasaan tersebut. Kekecewaan terhadap manusia sering kali berasal dari harapan yang tidak terpenuhi—harapan bahwa manusia akan bertindak lebih bijaksana terhadap alam dan satu sama lain. Namun, mengutuk seluruh spesies hanya akan membawa kemandekan emosional. Sebaliknya, pertimbangkan untuk mengambil tindakan konkret yang dapat mengubah arah.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Refleksi diri: Akui bahwa manusia memiliki potensi untuk baik dan buruk. Fokuslah pada tindakan yang dapat memperbaiki keadaan.
  • Tindakan nyata: Bergabunglah dengan gerakan lingkungan, kurangi jejak karbon, atau dukung kebijakan yang berkelanjutan.
  • Penerimaan: Sadari bahwa perubahan membutuhkan waktu. Manusia tidak akan berubah dalam semalam, tapi setiap langkah kecil berkontribusi.

Kolom Your Mileage May Vary mengajak pembaca untuk berpikir lebih dalam tentang dilema moral. Dengan memahami nilai-nilai yang saling bertentangan, kita dapat menemukan cara untuk hidup dengan lebih harmonis—baik dengan diri sendiri maupun dengan alam.

Jika Anda memiliki pertanyaan atau dilema moral yang ingin dibahas, Anda dapat mengirimkannya melalui form anonim ini. Pelanggan buletin akan mendapatkan kolom ini lebih dulu, dan pertanyaan mereka akan diprioritaskan untuk edisi mendatang.

Sumber: Vox