Saat memasuki bangku perkuliahan, saya sudah menyadari bahwa minat terhadap mobil bukanlah hal yang universal. Beberapa teman saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam membahas topik otomotif dengan antusias, sementara sebagian besar hanya memiliki ketertarikan seadanya terhadap kendaraan bermotor. Bahkan, sikap mereka cenderung meremehkan, kadang hingga menghina.
Saya masih ingat saat itu, tatapan kosong teman-teman sekolah menengah tahun 1970-an saya saat salah seorang di antara mereka menjelaskan, dalam satu malam yang dihabiskan dengan berkeliling kota bersama beberapa teman lainnya, bagaimana cara mengenali semua mobil Ford tahun 1960-an hanya dari bentuk lampu belakangnya yang menyala di kegelapan. Ia bahkan mendemonstrasikan caranya. Lebih dari itu, ia juga menjelaskan betapa mudahnya mengenali mobil polisi Plymouth Fury yang digunakan aparat setempat pada masa itu. Dari posisi lampu depan bagian dalam yang berwarna kuning, seseorang bisa langsung tahu bahwa mobil itu adalah kendaraan polisi yang mendekat. Tentu saja, saya pikir, semua orang pasti bisa menyimpan informasi praktis semacam itu di otak mereka. Flickr/Tim Carter
Namun ternyata tidak. Ada orang-orang yang sama sekali tidak peduli dengan mobil atau segala hal yang berhubungan dengannya. Meskipun saya tidak sepenuhnya menghindari topik ini di lingkungan sosial, saya belajar untuk menyembunyikan hasrat ini saat bertemu orang baru atau dalam kencan pertama. Setidaknya, untuk sementara waktu. Bayangkan bagaimana rasanya bagi mereka yang ingin membanggakan cinta mereka terhadap Nixon, musik polka, atau puisi karya G.K. Chesterton pada masa itu—meskipun seharusnya tidak.
Namun, yang membuat saya heran adalah mengapa banyak orang, termasuk rekan-rekan sejawat dan media ternama seperti The New York Times—yang tampaknya sangat memahami implikasi ekonomi dan sosiologis hampir semua hal—tidak melihat mobil sebagai bagian penting dalam kehidupan modern. Mereka meremehkan nilai mobil sebagai desain industri dan seni. Mereka hampir mengabaikan sejarah unik, peran penting dalam perekonomian global, serta—yang menarik bagi saya—muatan emosional dan sosial yang dibawa oleh setiap merek dan model mobil di jalan raya, baik disadari maupun tidak oleh pemiliknya.
Mobil yang dipilih seseorang untuk digunakan sehari-hari tidak hanya menunjukkan atau menyiratkan selera, nilai, dan keyakinan mereka, tetapi juga status sosial mereka. Mobil menjadi semacam tes Rorschach, indikator, atau peta yang dapat memberikan gambaran sekilas tentang estetika, politik, citra diri, kekayaan finansial, hingga rasa percaya diri pemiliknya. (Bahkan, bagi saya, hal ini juga mencerminkan apa yang seharusnya mereka rasakan tentang diri mereka sendiri.) Warner Bros. Pictures
Inilah alasan mengapa pemilihan mobil untuk karakter dalam film dan televisi sering kali—meskipun tidak selalu—dipikirkan dengan sangat matang. Ada begitu banyak detail halus yang perlu dipertimbangkan. Bagi saya, menilai mobil yang digunakan karakter dalam sebuah cerita adalah cara untuk memahami lebih dalam tentang siapa mereka sebenarnya.