Jerome Powell, Ketua Federal Reserve (The Fed), mengumumkan pada Rabu (1/5) bahwa ia akan tetap menjabat sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada pertengahan Mei. Powell menyatakan akan tetap bertugas "untuk jangka waktu tertentu" yang belum ditentukan, menyusul serangan hukum "tanpa preseden" dari pemerintahan mantan Presiden Donald Trump yang dinilainya telah mengancam independensi bank sentral AS.

"Saya khawatir serangan-serangan ini merusak institusi ini dan membahayakan hal-hal yang benar-benar penting bagi publik," ujar Powell dalam konferensi pers seusai rapat The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan tetap tidak berubah.

Keputusan Powell untuk tetap bertugas—sebuah langkah yang pertama kali dilakukan ketua The Fed sejak 1948—secara efektif menghalangi Trump untuk menunjuk anggota baru di Dewan Gubernur The Fed yang beranggotakan tujuh orang. Sebelumnya, Komite Perbankan Senat telah menyetujui Kevin Warsh, calon pilihan Trump, sebagai pengganti Powell melalui voting garis partai. Jika dikonfirmasi, Warsh akan mengambil alih kursi yang saat ini dipegang oleh Stephen Miran, mantan penunjuk Trump, yang masa jabatannya berakhir pada Januari lalu.

Para ekonom memperkirakan keputusan Powell dapat mempersulit Warsh untuk menerapkan pemotongan suku bunga yang didesak oleh Trump dan pernah ia dukung tahun lalu. "Ini mungkin berarti Warsh membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun konsensus yang ia inginkan," kata David Seif, Kepala Ekonom Pasar Developed Markets di Nomura, sebuah bank investasi.

Investigasi Hukum yang Belum Usai

Pada Jumat (3/5), Jeanine Pirro, Jaksa AS untuk Distrik Columbia, mengumumkan di platform X (sebelumnya Twitter) bahwa kantornya menghentikan investigasi terhadap renovasi besar-besaran gedung The Fed. Ia menyatakan bahwa Inspektur Jenderal The Fed akan mengambil alih penyelidikan tersebut. Namun, Pirro juga menegaskan bahwa investigasi dapat dibuka kembali jika "fakta mengharuskan demikian."

Sebelumnya, Pirro juga menyatakan akan mengajukan banding atas putusan pengadilan yang membatalkan surat perintah yang dikeluarkannya. Powell menegaskan bahwa Departemen Kehakiman telah menjamin bahwa banding tersebut tidak akan membuka kembali investigasi kecuali Inspektur Jenderal The Fed menemukan bukti tindak pidana.

Meskipun demikian, Powell mengungkapkan bahwa hal tersebut belum memberikan kepastian yang ia harapkan. "Saya menunggu investigasi ini benar-benar selesai dengan finalitas dan transparansi. Saya akan meninggalkan jabatan ketika saya merasa tepat untuk melakukannya," tegasnya.

Sinyal The Fed tentang Suku Bunga di Masa Depan

The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Rabu, menandai ketiga kalinya berturut-turut tanpa perubahan. Namun, bank sentral tersebut memberikan sinyal bahwa pemotongan suku bunga masih mungkin dilakukan dalam beberapa bulan mendatang. Keputusan ini menuai ketidaksetujuan terbanyak sejak Oktober 1992, dengan tiga pejabat menentang penghapusan referensi mengenai potensi pemotongan suku bunga di masa depan. Seorang anggota lainnya, Miran, bahkan menentang untuk segera memangkas suku bunga.

Perbedaan pendapat ini mencerminkan tingkat perpecahan di dalam Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang beranggotakan 12 orang, menjelang berakhirnya masa jabatan Powell sebagai ketua pada 15 Mei mendatang.

"Perkembangan di Timur Tengah turut meningkatkan tingkat ketidakpastian terhadap prospek ekonomi," demikian pernyataan The Fed seusai rapat dua hari yang digelar.

Inflasi yang masih tinggi, meskipun menunjukkan tanda-tanda pelambatan, tetap menjadi perhatian utama The Fed. Sementara itu, ketegangan geopolitik dan dinamika politik domestik menambah kompleksitas dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter ke depan.