Edisi terbaru Short Circuit, fitur mingguan yang disusun oleh para ahli di Institute for Justice (IJ), kembali hadir dengan rangkuman putusan penting dari pengadilan banding federal Amerika Serikat.

IJ Menuju Sidang Mahkamah Agung untuk Ke-14 Kalinya

Pada Senin lalu, Mahkamah Agung AS mengumumkan akan meninjau kasus Sun Valley Orchards, sebuah perusahaan yang sejak 2015 menjadi sasaran sanksi oleh Departemen Tenaga Kerja AS. Sun Valley, yang didampingi IJ, melawan dan pada tahun lalu Pengadilan Banding Ketiga secara bulat menyatakan bahwa pengadilan internal DOL melanggar konstitusi. Kini, Mahkamah Agung memiliki kesempatan untuk memperluas putusan tersebut secara nasional.

Podcast Short Circuit: Isu Kontroversial Seputar Distilasi Rumah dan Vaksinasi Sekolah Virtual

Edisi terbaru podcast Short Circuit membahas dua isu penting: pertama, mengenai kewenangan pemerintah dalam mengatur distilasi alkohol rumahan, dan kedua, mengenai vaksinasi wajib untuk sekolah virtual.

Whistleblower Menghadapi Kendala dalam Klaim Hadiah dari SEC

Seorang whistleblower melaporkan tindak pidana korporasi besar kepada media. Setelah itu, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) membuka investigasi dan meminta informasi darinya. Whistleblower tersebut kemudian mengajukan klaim hadiah atas informasi yang diberikan. Namun, SEC menolak dengan alasan informasi tersebut tidak disampaikan secara voluntary karena SEC memintanya setelah melihat berita di media.

Pengadilan Banding Sirkuit C menyatakan bahwa SEC sebenarnya dapat mengabaikan persyaratan tersebut dan harus menjelaskan alasannya. SEC dinilai gagal memberikan alasan yang memadai mengapa tidak memberikan kelonggaran dalam kasus ini.

Diskriminasi Disabilitas: Perusahaan Listrik Didakwa karena Meteran Tua

Seorang pria asal Maine yang menderita limfoma menggugat perusahaan listrik karena dianggap melakukan diskriminasi disabilitas. Ia menuntut perusahaan karena mengenakan biaya tambahan untuk menggunakan meteran konvensional dibandingkan meteran pintar. Meteran pintar diklaim memancarkan gelombang radio yang, menurutnya, memperburuk kondisi kesehatannya. Namun, Pengadilan Banding Pertama menolak klaim tersebut dengan alasan kurangnya bukti hubungan sebab akibat.

Aparat Didakwa karena Penggunaan Kekuatan Berlebihan terhadap Remaja

Pada awal pandemi COVID-19, seorang polisi di Columbia, Carolina Selatan, melihat seorang remaja berjalan di trotoar. Setelah didekati, remaja tersebut berlari. Polisi mengejar sambil berteriak memerintahkannya berhenti. Polisi melihat remaja tersebut membawa senjata api, meskipun tidak mengarahkannya kepada siapa pun. Polisi kemudian menembak sebanyak sembilan kali, mengenai kepala remaja tersebut hingga tewas.

Pengadilan Banding Keempat menyatakan bahwa penggunaan kekuatan mematikan terhadap seseorang yang tidak lagi menimbulkan ancaman langsung melanggar hukum. Hakim juga menolak klaim qualified immunity bagi aparat tersebut.

Penggunaan Anjing Polisi yang Berlebihan Menyebabkan Luka Parah

Seorang pria yang mengalami serangan medis dan menggunakan kaki palsu memasuki sebuah dealer mobil bekas di Chesterfield County, Virginia. Saat polisi tiba, ia meringkuk dalam posisi janin. Seorang polisi dengan anjing bernama Kona membiarkan anjing tersebut menyerang pria tersebut dengan kejam, menyebabkan kerusakan parah pada kaki palsu dan bagian tubuh lainnya.

Pengadilan Distrik menyatakan bahwa polisi telah memberikan peringatan, sehingga berlaku qualified immunity. Namun, Pengadilan Banding Keempat membatalkan putusan tersebut dan menyatakan bahwa posisi janin jelas menunjukkan ketidakberdayaan korban. Hakim dissent berpendapat bahwa kasus yang menjadi acuan mayoritas berkaitan dengan penggunaan tongkat baseball, bukan anjing.

Sementara itu, di Raleigh, Carolina Utara, seorang pria yang mengendarai sepeda semalaman terus menerus bergerak zig-zag di jalan raya.

Sumber: Reason