Pada tanggal 24 April 1963, Mahkamah Agung Amerika Serikat memulai sidang untuk mendengarkan argumen dalam kasus Sherbert vs Verner, sebuah perkara yang kelak menjadi landasan hukum penting mengenai kebebasan beragama dan hak pekerja.

Kasus ini bermula ketika Adele Sherbert, seorang pekerja tekstil di Carolina Selatan, dipecat dari pekerjaannya karena menolak bekerja pada hari Sabat (hari Sabtu) sesuai keyakinan agamanya. Setelah dipecat, ia mengajukan klaim tunjangan pengangguran, namun klaimnya ditolak oleh negara bagian karena tidak bersedia menerima pekerjaan yang mengharuskan bekerja pada hari Sabat.

Sherbert kemudian menggugat negara bagian Carolina Selatan atas dasar pelanggaran terhadap Klausul Kebebasan Beragama Pertama Amendemen Pertama Konstitusi AS. Ia berargumen bahwa kebijakan negara bagian telah menimbulkan beban yang tidak adil terhadap praktik agamanya.

Putusan Mahkamah Agung dalam kasus ini, yang dikeluarkan pada tanggal 17 Juni 1963, menetapkan bahwa negara bagian tidak dapat memberlakukan kebijakan yang secara langsung atau tidak langsung menimbulkan beban terhadap kebebasan beragama seseorang tanpa alasan yang kuat. Putusan ini juga menetapkan standar uji ketat (strict scrutiny) bagi pemerintah dalam kasus-kasus yang melibatkan kebebasan beragama.

Kasus Sherbert vs Verner menjadi preseden penting dalam hukum AS, yang kemudian digunakan dalam berbagai perkara serupa, termasuk kasus-kasus yang melibatkan kebebasan beragama dalam konteks pekerjaan, pendidikan, dan layanan publik.

Dampak Kasus Sherbert vs Verner

  • Perlindungan Kebebasan Beragama: Putusan ini memperkuat perlindungan terhadap kebebasan beragama di Amerika Serikat dengan menetapkan bahwa pemerintah tidak dapat memberlakukan kebijakan yang secara tidak adil membatasi praktik agama seseorang.
  • Standar Uji Ketat: Mahkamah Agung menetapkan bahwa pemerintah harus memiliki alasan yang sangat kuat (compelling interest) untuk membatasi kebebasan beragama, serta menggunakan cara yang paling tidak membatasi (least restrictive means) untuk mencapai tujuan tersebut.
  • Pengaruh terhadap Perkara Lain: Putusan ini menjadi dasar bagi banyak perkara berikutnya yang melibatkan kebebasan beragama, termasuk kasus-kasus yang berkaitan dengan hak-hak pekerja, pendidikan, dan layanan publik.

Kontroversi dan Kritik

Meskipun kasus Sherbert vs Verner dianggap sebagai kemenangan bagi perlindungan kebebasan beragama, putusan ini juga menuai kritik. Beberapa pihak berpendapat bahwa standar uji ketat yang ditetapkan oleh Mahkamah Agung terlalu ketat dan dapat menghambat pemerintah dalam menjalankan kebijakan publik yang penting. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa putusan ini dapat digunakan untuk membenarkan praktik-praktik agama yang diskriminatif atau melanggar hak-hak kelompok lain.

"Putusan Sherbert vs Verner adalah tonggak penting dalam sejarah hukum AS. Ia menetapkan bahwa kebebasan beragama bukan sekadar hak konstitusional, tetapi juga hak yang harus dilindungi secara aktif oleh pemerintah."

Sumber: Reason