Stres kerja kini mencapai titik yang mengkhawatirkan. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa lebih dari separuh karyawan di Amerika Serikat mengaku menangis di kantor dalam sebulan terakhir. Kondisi ini mencerminkan dampak buruk tekanan pekerjaan yang semakin tak terbendung.

Survei yang dilakukan oleh Modern Health, platform kesehatan mental yang ditawarkan sebagai benefit karyawan, melibatkan 1.000 responden dari perusahaan dengan minimal 250 karyawan. Hasilnya menunjukkan bahwa karyawan merasa sangat tertekan, kurang didukung, dan stres tersebut berdampak pada perilaku mereka di tempat kerja.

Ketakutan terhadap AI Memperparah Stres

Dua pertiga karyawan mengaku bahwa kecemasan terhadap perkembangan AI meningkatkan ekspektasi pekerjaan mereka sehari-hari. Sebanyak 64% menyatakan stres mereka semakin meningkat akibat AI, sementara 25% bahkan mengaku bahwa AI merusak kesehatan mental mereka.

Penggunaan Zat Terlarang Meningkat

Untuk mengatasi stres, banyak karyawan beralih pada zat-zat tertentu. Sebanyak 63% mengaku menggunakan alkohol, THC, atau obat resep untuk melepas lelah setelah pulang kerja. Yang lebih mencolok, 52% mengaku pernah menggunakan zat tersebut di kantor dalam setahun terakhir.

Ledakan Emosi dan Serangan Panik Meningkat

Perilaku karyawan di tempat kerja juga semakin tidak stabil. Laporan ini mencatat bahwa 51% karyawan mengaku pernah menangis di kantor dalam 30 hari terakhir—naik 12 poin dari survei tahun sebelumnya. Selain itu, 52% karyawan mengalami serangan kecemasan atau panik saat bekerja.

Tekanan untuk terus bekerja tanpa jeda menjadi penyebab utama. Sebanyak 72% karyawan merasa terpaksa untuk tetap bekerja meskipun mengalami gangguan mental—naik 10 poin dari tahun sebelumnya. Jumlah yang sama juga menyatakan bahwa perusahaan lebih mementingkan produktivitas daripada kesejahteraan karyawan. Lebih dari separuh (57%) bahkan merasa tertekan untuk membalas pesan kerja di luar jam kerja.

Batas antara Kerja dan Pribadi Semakin Tipis

Ketika karyawan tak kunjung bisa lepas dari pekerjaan, batasan antara kehidupan pribadi dan profesional semakin kabur. Kondisi ini mendorong perilaku yang berisiko, yang sayangnya luput dari perhatian banyak perusahaan. Stres kerja yang tak tertangani kini menjadi ancaman serius yang tidak bisa diabaikan lagi.