Sebuah terobosan medis telah mengembalikan pendengaran pada anak-anak yang tuli sejak lahir. Dalam uji klinis internasional, terapi gen eksperimental berhasil menunjukkan hasil luar biasa hanya dalam enam minggu setelah satu kali suntikan.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar dua tahun duduk di ruang laboratorium saat suara diputar. Ia tidak bereaksi sama sekali. Enam minggu kemudian, setelah menerima suntikan terapi gen, anak yang sama kembali ke ruangan yang sama. Ketika suara diputar lagi, kepala anak itu berputar mencari sumber suara. Di luar layar, kakeknya memanggil namanya. Anak itu menoleh dan melihat ke arah suara.

"Saat orang tua menyadari anak mereka merespons suara, mereka menangis. Seluruh keluarga menangis," kata Dr. Yilai Shu dari Rumah Sakit Mata THT Fudan University, yang turut memimpin uji klinis tersebut, dalam sebuah video yang merekam momen tersebut.

Video tersebut kemudian menunjukkan anak lain, tiga belas minggu setelah perawatan, menari mengikuti musik. Inilah dampak nyata terapi gen pada tahun 2026.

Otarmeni: Obat Baru yang Disetujui FDA

Uji klinis internasional ini menjadi dasar ilmiah bagi Otarmeni, obat terapi gen yang baru-baru ini mendapatkan persetujuan percepatan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) untuk mengatasi gangguan pendengaran berat hingga sangat berat akibat mutasi gen OTOF.

Dalam uji klinis penting yang melibatkan 80 pasien, 80% di antaranya menunjukkan peningkatan pendengaran yang terukur. Lebih menakjubkan lagi, 42% pasien mampu mendengar bisikan. Dua setengah tahun setelah perawatan, 90% pasien dalam uji klinis multi-pusat tersebut masih dapat mendengar dengan baik.

Bagi mereka yang terlibat dalam uji klinis, obat ini terasa seperti mukjizat yang mengubah kehidupan dari keheningan menjadi suara.

Perjalanan Panjang Terapi Gen Menuju Keberhasilan

Kesuksesan Otarmeni tidak terlepas dari perjalanan panjang terapi gen yang penuh tantangan. Pada tahun 1999, bidang terapi gen nyaris runtuh setelah kematian seorang remaja bernama Jesse Gelsinger akibat komplikasi dalam uji klinis terapi gen di Universitas Pennsylvania. Kematian tersebut menjadi kematian pertama yang tercatat dalam uji klinis terapi gen dan memicu krisis kepercayaan terhadap metode pengobatan ini.

Akibatnya, dana penelitian menghilang, banyak peneliti kehilangan pekerjaan, dan istilah "terapi gen" menjadi simbol kegagalan medis. Butuh waktu bertahun-tahun dan perubahan besar dalam cara terapi gen disampaikan kepada pasien sebelum bidang ini dapat bangkit kembali.

Kini, 27 tahun setelah tragedi Gelsinger, terapi gen telah mencapai tonggak sejarah dengan mampu membalikkan sebagian jenis ketulian bawaan. Masa depan tidak lagi mempertanyakan apakah terapi gen dapat memberikan hasil klinis, melainkan apakah terapi ini dapat diakses oleh lebih banyak pasien dengan harga yang terjangkau untuk penyakit yang memengaruhi lebih dari sekadar ratusan anak setiap tahun.

Tantangan Selanjutnya: Akses dan Keterjangkauan

Jika pertanyaan tentang akses dan keterjangkauan dapat dijawab dengan tepat, apa yang terasa seperti mukjizat pada tahun 2026 dapat menjadi pengobatan medis yang umum di masa depan. Para ahli optimis bahwa terapi gen akan terus berkembang dan memberikan harapan baru bagi jutaan pasien di seluruh dunia.

Sumber: Vox