Trump Kembali Menyerang Media Usai Insiden Tembakan
Sebuah pertanyaan tak nyaman dari wartawan membuat Presiden Donald Trump kembali menyerang media Washington hanya dalam waktu kurang dari 24 jam setelah insiden tembakan di acara makan malam wartawan Gedung Putih. Trump sebelumnya sempat menunjukkan sikap lebih bersahabat dengan media seusai insiden tersebut.
Perubahan Sikap dalam Waktu Singkat
Trump mengungkapkan dalam wawancara pertamanya sejak insiden tembakan di acara White House Correspondents' Dinner pada Sabtu malam bahwa dirinya tidak merasa khawatir. "Saya tidak khawatir. Saya memahami hidup. Kita hidup di dunia yang gila," katanya kepada program 60 Minutes.
Usai insiden tembakan, Trump sempat menunjukkan sikap lebih bersahabat dengan media. Ia memuji semangat kebersamaan yang muncul di antara para wartawan dan tokoh masyarakat. "Saya benar-benar siap untuk menyerang habis-habisan. Saya tidak tahu apakah saya bisa sekeras yang saya rencanakan," ujarnya.
Namun, gencatan senjata itu tak berlangsung lama. Dalam wawancara lanjutan dengan 60 Minutes, Trump kembali menyerang Demokrat dan media, menyebut keduanya "hampir sama". Ia juga marah ketika wartawan membacakan kutipan dari manifesto tersangka penembak, yang menyebut Trump sebagai "pedofil, pemerkosa, dan pengkhianat".
"Saya bukan pemerkosa. Saya tidak pernah memperkosa siapa pun. Saya bukan pedofil," balas Trump. Ia menuding Demokrat, bukan dirinya, yang terlibat dengan Jeffrey Epstein. "Anda membaca omong kosong dari orang sakit? Anda seharusnya malu," katanya kepada wartawan 60 Minutes, Norah O'Donnell.
Hubungan Trump dengan Media yang Selalu Bergejolak
Trump telah menghabiskan masa jabatan keduanya dengan terus berkonflik dengan media. Ia menggugat sejumlah media besar, termasuk 60 Minutes (milik Paramount), dengan tuntutan ganti rugi miliaran dolar. Ia juga melarang wartawan Associated Press (AP) memasuki Ruang Oval, mencabut peran asosiasi wartawan Gedung Putih dalam memilih wakil media, serta secara rutin menyerang wartawan secara pribadi.
Isu Epstein menjadi salah satu pemicu utama kemarahan Trump. Ia pernah menggugat Wall Street Journal dengan tuntutan ganti rugi sebesar $10 miliar atas pemberitaan yang dianggap merugikan dirinya.
Pandangan Trump tentang Kekerasan Politik
Trump menegaskan bahwa kekerasan politik bukanlah fenomena baru di Amerika Serikat. "Anda bisa melihat 20 tahun, 40 tahun, 100 tahun, 200 tahun, 500 tahun yang lalu, hal ini selalu ada. Saya tidak yakin sekarang lebih buruk daripada sebelumnya," ujarnya.
Ia juga menuding retorika kebencian dari pihak Demokrat sebagai ancaman yang lebih berbahaya. "Saya rasa retorika kebencian Demokrat jauh lebih berbahaya. Saya benar-benar berpikir itu sangat berbahaya bagi negara ini," katanya.
Reaksi terhadap Insiden Tembakan
Insiden tembakan di acara White House Correspondents' Dinner pada Sabtu malam menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya. Trump sebelumnya sempat menunjukkan sikap lebih positif terhadap media seusai insiden tersebut. Ia menyebut momen itu sebagai tanda kebersamaan yang luar biasa.
Namun, ketegangan kembali muncul ketika Trump diminta memberikan tanggapan atas manifesto tersangka penembak. Ia menolak tuduhan yang dilontarkan dalam manifesto tersebut dan kembali menyerang lawan politiknya.
"Anda seharusnya malu membacakan omong kosong dari orang sakit itu. Anda seorang yang tidak bermoral," kata Trump kepada Norah O'Donnell.
Kesimpulan
Insiden tembakan di acara wartawan Gedung Putih sempat menciptakan momen kebersamaan yang singkat antara Trump dan media. Namun, ketegangan kembali memuncak hanya dalam waktu kurang dari 24 jam. Trump kembali menyerang media dan Demokrat, menunjukkan bahwa hubungan keduanya masih jauh dari harmonis.