Donald Trump kembali mengecam hakim agung yang ia angkat sendiri di Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS), menuntut kesetiaan mereka kepada dirinya. Kritik tajam ini disampaikan melalui unggahan panjang di platform Truth Social pada Minggu (12/5).

Trump mengecam dua hakim yang ia tunjuk, yakni Neil Gorsuch dan Amy Coney Barrett, karena putusan mereka yang menentang rencana tarif ekonominya. Pada Februari lalu, Mahkamah Agung menyatakan tarif yang dikeluarkan Trump sebagai ilegal. Keputusan ini tidak hanya menggagalkan rencana ekonomi kontroversial pemerintahannya, tetapi juga merusak agenda kebijakan luar negeri utama administrasi AS.

Trump menyalahkan Mahkamah Agung atas kerugian ekonomi akibat tarif ilegal tersebut. Ia mengklaim bahwa keputusan pengadilan telah menyebabkan AS harus membayar hingga $159 miliar kepada negara-negara musuh. Ia juga mempertanyakan mengapa hakim tidak secara eksplisit menyatakan bahwa AS tidak perlu membayar kerugian akibat kebijakan pemerintahannya sendiri.

Lebih lanjut, Trump menyinggung hakim-hakim yang ia tunjuk dari kubu konservatif. Ia menyatakan bahwa dengan hakim-hakim tersebut, Demokrat tidak perlu lagi berupaya untuk memperluas jumlah hakim Mahkamah Agung (court-packing). Ia bahkan mengancam akan mempertimbangkan langkah serupa jika hakim-hakim yang ia tunjuk tidak mendukungnya.

"Mereka harus melakukan hal yang benar, tetapi sebenarnya boleh saja setia kepada orang yang mengangkat mereka ke posisi hampir tertinggi di negeri ini," tulis Trump. Ia juga mengklaim tanpa bukti bahwa hakim-hakim yang ditunjuk oleh presiden Demokrat "selalu setia kepada orang yang menghormati mereka". Klaim ini bertentangan dengan fakta, termasuk dalam beberapa putusan penting tahun ini.

Ketegangan ini muncul menjelang putusan Mahkamah Agung mengenai kewarganegaraan melalui kelahiran (birthright citizenship), hak konstitusional yang sejak awal masa jabatan keduanya telah menjadi target Trump untuk dihapuskan. Putusan tersebut diperkirakan akan diumumkan pada Juni mendatang.

Trump juga mengungkit kunjungan langka ke Mahkamah Agung bulan lalu, menjadi presiden petahana pertama dalam sejarah AS yang hadir secara langsung saat sidang berlangsung. Ia yakin bahwa Mahkamah Agung akan memutuskan menentang kewarganegaraan melalui kelahiran, dengan alasan bahwa AS akan menjadi satu-satunya negara di dunia yang menerapkan sistem tersebut. "Saya tidak menginginkan kesetiaan, tetapi saya menginginkan dan mengharapkan hal itu demi negara kita," tulisnya.

Trump mengakhiri unggahannya dengan menyatakan bahwa ia memiliki cara lain untuk menerapkan agenda tarifnya, meskipun dengan proses yang "jauh lebih lambat" dibandingkan rencana awal yang dinyatakan ilegal.