Donald Trump kembali menekan Presiden Israel Isaac Herzog untuk memberikan pengampunan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dalam wawancara dengan Axios, Trump menyatakan bahwa Herzog bisa menjadi 'pahlawan nasional' jika memenuhi permintaan tersebut.

Menurut Trump, Netanyahu telah membahas kasus korupsi yang menimpanya dalam panggilan telepon Selasa malam. Ia mengatakan Netanyahu justru harus fokus menghadapi ancaman dari Iran, bukan menghadiri sidang. "Di tengah perang? Sudahlah," ujar Trump kepada Axios.

Perubahan Sikap Trump terhadap Herzog

Yang menarik, Trump-lah yang pertama kali mengangkat isu pengampunan dalam pembicaraan tersebut. Sebelumnya, ia kerap mengkritik keras Herzog selama beberapa bulan terakhir. Namun kali ini, nada bicaranya berubah. "Saya menyukai dia, Herzog," kata Trump. "Ia akan menjadi pahlawan nasional jika memberi Bibi pengampunan. Saya akan sangat menghargainya."

Trump juga menyebut sidang Netanyahu membuat Israel tampak buruk dan menyepelekan tuduhan korupsi sebagai "anggur dan cerutu"—meskipun tuduhan tersebut melibatkan dugaan penerimaan suap untuk keuntungan politik, yang dibantah Netanyahu. "Bibi adalah perdana menteri di masa perang. Ia tidak bisa dibebani dengan ini," tegas Trump.

Latar Belakang Tekanan Trump

Sejak Juni tahun lalu, Trump telah mendesak pengampunan bagi Netanyahu. Ia menganggap sidang korupsi yang dihadapi Netanyahu sejak 2020 sebagai "pemburuan tukang sulap", mirip dengan kasus hukum yang menimpanya di Amerika Serikat.

Namun, pengampunan tersebut bisa memicu reaksi keras dari sebagian masyarakat Israel. Sementara itu, pemilu Israel akan digelar pada Oktober mendatang. Jika Netanyahu kalah, risiko ia dipenjara akan meningkat signifikan.

Upaya Negosiasi dan Kendala Hukum

Awal pekan ini, Herzog mengundang pengacara Netanyahu, jaksa agung, dan jaksa penuntut negara untuk membahas kemungkinan penyelesaian kasus. Ia menegaskan tidak akan memutuskan pengampunan sebelum negosiasi kesepakatan dicapai. Trump, dalam wawancara tersebut, menyatakan yakin Netanyahu "tidak bisa menerima" kesepakatan dan membutuhkan pengampunan penuh.

Kendala utama muncul karena Netanyahu menolak mengakui kesalahan atau menunjukkan penyesalan—dua syarat utama untuk mendapatkan pengampunan menurut hukum Israel. Selain itu, kemungkinan kesepakatan sulit tercapai karena Netanyahu tidak mau mengaku bersalah atas tuduhan yang berpotensi melarangnya menduduki jabatan publik. Jaksa penuntut juga tampaknya tidak bersedia menerima tuntutan yang lebih ringan.

Dinamika Politik dan Hubungan Trump-Herzog

Pada Maret lalu, Trump sempat menyebut Herzog sebagai "sumber malu" karena tidak mengampuni Netanyahu. Dalam wawancara lain, ia bahkan menyebut Herzog "lemah dan menyedihkan". Namun, perubahan sikap Trump terhadap Herzog tetap menjadi tanda tanya. Seorang pejabat senior Israel berspekulasi bahwa Trump mungkin menyadari bahwa serangan terbukanya tidak efektif, atau mungkin Netanyahu sendiri yang mendorong perubahan nada tersebut.

Sumber: Axios