Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Senin (15/4) mendengarkan argumen hukum Bayer AG yang berupaya menghentikan lebih dari 100.000 gugatan terkait produk herbisida Roundup. Para penggugat menuding Roundup, yang mengandung glifosat, menyebabkan non-Hodgkin limfoma, sejenis kanker darah.
Perusahaan asal Jerman ini membeli Monsanto, raksasa agrokimia Amerika, pada 2018. Sejak itu, Bayer menghadapi tuntutan hukum yang menuntut ganti rugi dalam jumlah besar. Meskipun berbagai studi ilmiah menghubungkan glifosat dengan kanker, Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) menyatakan bahwa zat tersebut “tidak mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia.”
Di sisi lain, mantan Presiden AS Donald Trump pernah menyatakan glifosat “kunci pertahanan nasional” dan menerbitkan perintah eksekutif untuk meningkatkan produksinya.
Koalisi Tak Terduga Menentang Bayer
Di luar gedung Mahkamah Agung, para korban kanker dan keluarganya turun ke jalan untuk memprotes upaya Bayer mendapatkan imunitas hukum. Mereka bergabung dengan kelompok tak terduga lainnya, mulai dari influencer kesehatan seperti “The Food Babe” dan “The Glyphosate Girl” hingga Senator Cory Booker (D-NJ) dan aktivis lingkungan dari Center for Biological Diversity.
Di tingkat legislatif, dua anggota Kongres dari partai berbeda, Rep. Chellie Pingree (D-Maine) dan Rep. Thomas Massie (R-Ky.), berkolaborasi untuk melawan upaya Bayer melalui lobi mereka. Mereka berusaha memasukkan pasal dalam Undang-Undang Pertanian 2026 yang akan melarang pemerintah daerah memberikan peringatan tentang risiko pestisida, sehingga memberikan imunitas hukum lebih besar kepada Bayer.
“Ini bukan untuk memberikan imunitas kepada petani, melainkan kepada korporasi. Jika petani terkena kanker akibat bahan kimia ini, dan pasal ini masuk dalam Undang-Undang Pertanian, Anda tidak akan bisa menggugat,”
ujar Massie dalam pernyataan bulan lalu.
Penggunaan Glifosat Masih Meluas di Negara Bagian
Sementara itu, investigasi terbaru oleh rekan saya Nate Halverson mengungkapkan bahwa pemerintah negara bagian masih menggunakan glifosat dalam jumlah besar, meskipun gugatan terhadap Roundup terus berlanjut. Kasus ini menyoroti ketegangan antara perlindungan konsumen, kepentingan korporasi, dan kebijakan pertanian di AS.