Produsen mobil listrik asal China, BYD, baru-baru ini meluncurkan versi terbaru dari mobil listrik kompaknya, Seagull, di pasar domestik. Model ini hadir dengan harga mulai ¥69.900 (sekitar Rp144 juta) untuk varian dasar, atau ¥90.900 (sekitar Rp186 juta) jika dilengkapi dengan sistem bantuan pengemudi DiPilot 300.

Varian termurah, Seagull Vitality Edition, menggunakan baterai 30,1 kWh dengan jangkauan hingga 305 km. Sementara itu, varian tertinggi, Flying Edition, hadir dengan baterai 38,9 kWh dan jangkauan hingga 405 km. Keduanya kini dapat dipesan dengan opsi DiPilot 300, yang menggabungkan sensor Lidar dengan radar dan kamera untuk meningkatkan keselamatan berkendara.

Lidar: Teknologi Canggih yang Sekarang Terjangkau

Meskipun sensor Lidar dikenal sebagai standar emas dalam teknologi bantuan pengemudi karena kemampuannya mendeteksi objek dalam jarak jauh dan kondisi gelap, teknologi ini sebelumnya hanya tersedia di mobil-mobil mewah Eropa dan Amerika dengan harga di atas Rp1,4 miliar. Namun, di China, BYD kini menawarkan teknologi ini di mobil listrik murah seharga Rp144 juta.

Menurut para ahli, sensor Lidar lebih unggul daripada kamera dalam hal pengukuran jarak dan deteksi objek tak terang, serta lebih detail daripada radar. Namun, biaya produksi yang tinggi membuatnya sulit diakses di pasar global. Tesla, yang lebih mengandalkan kamera, bahkan menyebut Lidar sebagai teknologi yang tidak diperlukan.

DiPilot 300: Sistem ADAS Level 2 dengan Sensor Lidar

DiPilot 300 bukanlah sistem otonom penuh (Level 3), melainkan sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut (Level 2) yang dapat mengoperasikan mobil di jalan perkotaan, termasuk mengatasi lampu lalu lintas. Sistem ini hadir dengan ciri khas berupa sensor Lidar yang dipasang di atap, mirip dengan desain mobil sport McLaren 675LT.

Meskipun demikian, BYD tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan sistem Level 3 di masa depan. Jika hal ini terwujud, Seagull kemungkinan akan menjadi salah satu mobil murah pertama yang dilengkapi teknologi tersebut.

Perbandingan dengan Merek Eropa: Lidar Kini Lebih Terjangkau

Sebelumnya, merek-merek Eropa seperti BMW dan Mercedes menawarkan sensor Lidar sebagai bagian dari paket bantuan pengemudi Level 3 di mobil-mobil mewah mereka, seperti seri 7 dan S-Class. Namun, kedua merek tersebut kini menghapus opsi Lidar dari model terbaru mereka karena biayanya yang tinggi, sekitar Rp100 juta. Sebagai gantinya, mereka beralih ke sistem Level 2 yang masih memerlukan pengawasan pengemudi.

Perbedaan mencolok terlihat di China, di mana pemerintah mendukung pengembangan teknologi otomotif lokal dengan insentif dan kebijakan yang memungkinkan produsen seperti BYD untuk menawarkan teknologi canggih dengan harga terjangkau. Hal ini juga didukung oleh permintaan pasar yang semakin tinggi terhadap mobil listrik dengan fitur keselamatan mutakhir.

"Di China, sensor Lidar kini dapat ditemukan bahkan di mobil listrik seharga Rp144 juta. Ini menunjukkan bagaimana kebijakan pemerintah dan inovasi lokal dapat mengubah lanskap industri otomotif global."

Dengan peluncuran Seagull yang dilengkapi DiPilot 300, BYD tidak hanya menunjukkan kemampuan teknologi lokal, tetapi juga membuka akses terhadap fitur-fitur canggih yang sebelumnya hanya tersedia di mobil-mobil premium. Hal ini dapat menjadi titik balik dalam persaingan industri otomotif, terutama di pasar mobil listrik yang semakin kompetitif.

Sumber: CarScoops