Joe Biden mungkin sudah meninggalkan Gedung Putih, tetapi pengaruhnya terhadap Partai Demokrat tampaknya tak kunjung hilang. Sejak mundur dari pencalonan presiden pada Juli 2024, Biden memilih untuk menjaga jarak dari sorotan publik. Namun, keputusan itu tak sepenuhnya menghentikan keterlibatannya dalam politik.

Ketika Donald Trump kembali berkuasa, banyak pihak menilai keputusan Biden untuk tetap maju sebagai calon presiden menjadi faktor utama kekalahan Partai Demokrat. Kini, meskipun Biden tak lagi menjabat, kehadirannya kembali mencuat—dan itu justru menjadi masalah baru bagi partai.

Bulan lalu, Biden turun tangan dalam dua pemilihan pendahuluan dengan memberikan dukungan kepada kandidat yang pernah bekerja dalam kampanyenya tahun 2024. Menurut pengamat politik David Weigel dari Semafor, nostalgia terhadap Biden juga mulai muncul di beberapa wilayah, terutama dalam pemilihan gubernur California. Kandidat seperti Xavier Becerra, yang pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan di bawah Biden, kerap menyebutkan masa jabatannya sebagai pencitraan positif.

Meski begitu, popularitas Biden di mata publik tak banyak berubah. Survei terbaru dari Newsweek menunjukkan hanya 44% pemilih yang memandangnya secara positif. Angka ini tak jauh berbeda dari masa-masa akhir pemerintahannya, ketika tingkat persetujuan publiknya berada di kisaran 30-an persen akibat inflasi pasca-pandemi dan kekhawatiran tentang kesehatan dan usianya.

Namun, perbandingan dengan Trump justru sedikit menguntungkan Biden. Survei Harvard CAPS/Harris menunjukkan 51% pemilih menilai Trump lebih buruk dalam menjalankan pemerintahan dibandingkan Biden, sementara 49% lainnya berpendapat sebaliknya. Meskipun demikian, tak ada tanda-tanda bahwa masyarakat secara luas akan meninjau ulang masa pemerintahan Biden.

Di tengah berbagai isu mendesak saat ini—seperti serangan terhadap imigran, komunitas LGBTQ, para jurnalis, hingga perang dagang dan konflik bersenjata di seluruh dunia—masa lalu seharusnya menjadi hal terakhir yang dibahas. Fokus utama Partai Demokrat saat ini adalah menghadapi kebijakan kontroversial pemerintahan Trump yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Namun, kembalinya Biden dalam percaturan politik tak bisa diabaikan begitu saja. Kehadirannya berpotensi menjadi isu dalam setiap pemilihan, tidak hanya dalam pemilihan pendahuluan. Bagi Partai Demokrat, ini adalah masalah yang lebih luas. Meskipun dukungan Biden mungkin menguntungkan sebagian kandidat, kehadirannya justru mengingatkan publik akan hal-hal yang tidak disukai dari partai pada tahun 2024.

Biden yang tak populer saat ini justru berisiko melemahkan pesan utama Partai Demokrat: bahwa kebijakan Trump telah menyebabkan lonjakan biaya hidup dan bahwa Trump tak layak memimpin karena ketidakstabilan mentalnya. Partai Demokrat tak punya alasan untuk membahas Biden, tetapi jika dia terus muncul dalam berbagai pemilihan, mereka tak punya pilihan selain membicarakannya. Ini adalah percakapan yang tak diinginkan, tetapi mungkin tak terhindarkan.