Dua puluh hari menjelang Piala Dunia FIFA 2026, kehadiran agen Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) di Amerika Serikat menjadi sorotan. Meskipun semula diumumkan hanya untuk menjaga keamanan, ancaman razia mendadak menimbulkan ketidakpastian.
Kehadiran ICE ini semakin menimbulkan kekhawatiran, terutama setelah Ketua Panitia Piala Dunia Los Angeles, Kathryn Schloessman, mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kendali penuh atas keputusan tersebut. "Kami bekerja sama dengan mereka untuk memastikan fokus mereka hanya pada keamanan acara dan tidak melakukan tindakan lain," ujar Schloessman. "Namun, saya bukanlah pengambil keputusan utama dalam hal ini."
Ancaman razia ICE tidak hanya berpotensi merusak suasana Piala Dunia, tetapi juga menimbulkan dampak serius bagi kota tuan rumah, penggemar internasional, dan pekerja migran yang bekerja di belakang layar. Pekerja sektor makanan dan minuman, yang rentan menjadi target razia, bahkan mengancam akan melakukan mogok kerja jika ICE tetap beroperasi selama turnamen.
Kekhawatiran ini semakin meningkat setelah FIFA dan para pemangku kepentingan lainnya mendesak agar ICE tidak melakukan tindakan penegakan hukum selama Piala Dunia. Ketua FIFA, Gianni Infantino, telah secara tegas meminta agar kehadiran ICE hanya sebatas untuk keamanan, bukan untuk melakukan razia atau tindakan represif lainnya.
Namun, hingga saat ini, tidak ada jaminan resmi bahwa ICE akan menahan diri dari melakukan razia. Ketua panitia lokal pun mengakui keterbatasan wewenangnya dalam mengendalikan keputusan tersebut. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang tidak hanya mengancam kelancaran Piala Dunia, tetapi juga citra Amerika Serikat sebagai tuan rumah acara olahraga terbesar di dunia.