Presiden Federasi Otomotobil Internasional (FIA), Mohammed Ben Sulayem, baru-baru ini mengumumkan terobosan besar menjelang Grand Prix Miami Formula 1. Ia mengumumkan bahwa mesin V8 berputaran tinggi akan kembali digunakan di ajang balap tertinggi dunia ini mulai tahun 2030. Keputusan ini secara resmi mengakhiri era mesin hibrida V6 yang telah mendominasi selama ini.
Setelah pengumuman tersebut, banyak pertanyaan muncul mengenai masa depan teknologi mesin di F1. Ben Sulayem kemudian memberikan penjelasan lebih rinci dalam wawancara eksklusif dengan The Drive. Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung hampir 30 menit, ia menjelaskan tiga alasan utama di balik keputusan ini: pengurangan biaya, penurunan bobot mesin, serta peningkatan keterlibatan penggemar melalui suara mesin yang lebih keras.
Menurut Ben Sulayem, meskipun regulasi 2026 telah diperbarui, mesin hibrida V6 saat ini masih didasarkan pada konsep yang dirancang pada 2013. Perkembangan teknologi yang pesat serta tuntutan industri otomotif yang semakin kompleks mendorong FIA untuk mengevaluasi ulang arah pengembangan mesin F1. Ia menekankan bahwa mesin saat ini dianggap terlalu rumit dan mahal untuk dikembangkan maupun dijual kepada tim pelanggan.
“Mesin 1.6 liter saat ini telah menjalankan fungsinya, tetapi setelah 14 tahun, sudah waktunya untuk berubah,” ujarnya. “Dari segi keberlanjutan bisnis, efisiensi biaya, bobot yang lebih ringan, dan suara yang lebih menarik bagi penggemar, mesin V8 menawarkan banyak keuntungan.”
Mesin V8 yang akan datang tetap akan mempertahankan unsur hibrida, namun dengan proporsi yang berbeda. Ben Sulayem menjelaskan bahwa elektrifikasi bukanlah satu-satunya solusi untuk masa depan F1. Dengan bahan bakar berkelanjutan yang semakin berkembang, mesin yang lebih besar, lebih murah, dan lebih sesuai dengan ekspektasi penggemar kini menjadi pilihan yang lebih realistis.
Ia juga membagikan beberapa spesifikasi teknis awal untuk mesin V8 yang akan datang. Meskipun belum final, rincian tersebut menunjukkan bahwa keputusan ini bukanlah keputusan sesaat, melainkan hasil evaluasi mendalam. Berikut adalah beberapa poin utama yang disampaikan:
- Kapasitas mesin: Antara 2.6 hingga 3.0 liter.
- Tenaga kuda: Sekitar 880 hp dengan pembagian energi 10% untuk komponen listrik.
- Tenaga mesin pembakaran: Sekitar 650 hp.
Ben Sulayem menekankan bahwa proporsi pembagian energi tidak akan lagi 50/50 seperti pada mesin hibrida saat ini. Ia percaya bahwa perubahan ini akan membawa dampak positif bagi keberlanjutan finansial tim, pabrikan, serta pengalaman balap yang lebih menarik bagi penggemar.
“Kami tidak bisa mendapatkan tenaga yang cukup dengan kapasitas kurang dari 2.5 atau 2.6 liter. Dengan pembagian energi 10%, kami bisa mencapai 880 hp, sementara mesin pembakaran internalnya sendiri akan menghasilkan sekitar 650 hp,” jelasnya.
Keputusan ini juga diharapkan dapat membuka peluang bagi lebih banyak tim, termasuk tim pelanggan, untuk terlibat dalam pengembangan mesin tanpa terbebani oleh biaya pengembangan yang tinggi. Dengan mesin yang lebih sederhana, pabrikan dapat lebih mudah memproduksi dan menjual unit mesin kepada tim yang membutuhkan.
Meskipun masih ada waktu hingga 2030, pengumuman ini telah memicu diskusi hangat di kalangan penggemar dan pelaku industri. Banyak yang berharap perubahan ini dapat membawa F1 kembali ke akarnya sebagai ajang balap yang spektakuler, dengan suara mesin yang khas dan persaingan yang lebih ketat.