Iran mengajukan proposal kepada Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz tanpa menyertakan pembahasan mengenai program nuklirnya, demikian diungkapkan oleh pejabat yang mengetahui proposal tersebut pada Senin (12/8).

Dalam proposal tersebut, Iran juga menuntut AS untuk mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai syarat utama guna membuka kembali jalur diplomasi, kata dua pejabat regional yang berbicara dengan syarat anonim karena sedang membahas negosiasi tertutup.

Harga minyak naik pada Senin menyusul ketegangan yang terus berlanjut antara AS dan Iran di Selat Hormuz, meskipun telah terjadi gencatan senjata. Sementara itu, para pemimpin Pakistan berupaya menghidupkan kembali pembicaraan yang sempat mandek antara kedua negara.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, berada di Rusia pada Senin untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari perjalanan yang meliputi dua kunjungan ke Pakistan dan satu kunjungan ke Oman, negara yang berbagi Selat Hormuz dengan Iran.

Menurut seorang pejabat regional yang terlibat dalam upaya mediasi, mediator yang dipimpin Pakistan tengah berupaya menjembatani perbedaan besar antara AS dan Iran. Pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim karena tidak memiliki wewenang untuk membahas masalah ini secara terbuka.

Rencana kunjungan para utusan utama AS ke Islamabad pada akhir pekan lalu dibatalkan setelah Iran menegaskan bahwa AS harus mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran sebelum pembicaraan baru dapat dimulai. Pada Senin pagi, Komando Pusat Militer AS mengumumkan bahwa hingga saat ini, sebanyak 38 kapal telah dibalikkan arahnya selama blokade berlangsung.

Sejak perang dimulai, sedikitnya 3.375 orang tewas di Iran dan 2.509 orang di Lebanon, di mana pertempuran antara Israel dan Hezbollah kembali memanas dua hari setelah perang di Iran dimulai. Selain itu, 23 orang tewas di Israel dan lebih dari selusin di negara-negara Arab Teluk. Korban jiwa juga mencakup 15 tentara Israel di Lebanon, 13 personel militer AS di kawasan tersebut, serta enam penjaga perdamaian PBB di selatan Lebanon.