Pertanyaan krusial kini muncul: Haruskah jurnal akademik lebih skeptis terhadap editor tamu? Pertanyaan ini semakin mendesak setelah British Medical Journal (BMJ) mencabut hampir seluruh edisi khusus jurnal Journal of Medical Genetics yang dieditori tamu, dengan tema imunoterapi kanker.
Dalam pengumuman pencabutan, jurnal tersebut mengungkapkan bahwa sebagian besar masalah berasal dari tinjauan sejawat yang tidak memadai di hampir semua artikel. Keputusan ini tidak hanya menarik perhatian karena skalanya, tetapi juga karena mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas dari para ahli integritas penelitian terhadap praktik editor tamu—yang juga dikenal sebagai edisi khusus di jurnal lain.
Mengapa Editor Tamu Menjadi Kontroversi?
Editor tamu, yang biasanya ahli di bidang tertentu, diundang untuk menyunting edisi khusus dengan topik spesifik. Meskipun tujuannya untuk memperkaya wawasan ilmiah, praktik ini kerap disalahgunakan. Beberapa jurnal bahkan dianggap sebagai 'sarana bermain-main' bagi ilmuwan yang ingin menerbitkan karya tanpa standar ketat.
Menurut Council of Science Editors (CSE), editor tamu dapat meningkatkan risiko:
- Tinjauan sejawat yang tidak independen atau tidak berkualitas
- Publikasi artikel dengan metodologi lemah atau data tidak valid
- Konflik kepentingan yang tidak terungkap
- Praktik predatory publishing (penerbit predator) yang memanfaatkan sistem
Dampak Retraksi BMJ: Pelajaran bagi Dunia Akademik
Retraksi oleh BMJ bukanlah kasus tunggal. Pada tahun 2022, jurnal Frontiers in Immunology mencabut 26 artikel dari edisi khusus yang dieditori tamu karena tinjauan sejawat yang tidak memadai. Kasus serupa juga terjadi di jurnal PLOS ONE dan Scientific Reports, yang menarik puluhan artikel akibat praktik serupa.
Dr. Fiona Godlee, mantan editor utama BMJ, menyatakan,
"Editor tamu memiliki peran penting, tetapi jurnal harus menetapkan standar yang lebih tinggi untuk mencegah penyalahgunaan. Sistem ini tidak boleh menjadi 'jalan pintas' bagi mereka yang ingin menerbitkan karya tanpa proses yang ketat."
Apa yang Bisa Dilakukan Jurnal untuk Mencegahnya?
Untuk mengatasi masalah ini, beberapa jurnal mulai menerapkan langkah-langkah ketat:
- Pemeriksaan latar belakang editor tamu: Memastikan tidak ada konflik kepentingan atau afiliasi dengan penerbit predator.
- Proses tinjauan sejawat yang diawasi: Menunjuk editor internal untuk memantau kualitas review.
- Batasan jumlah artikel: Menetapkan kuota untuk mencegah dominasi satu edisi oleh karya tertentu.
- Transparansi penuh: Mengharuskan pengungkapan semua afiliasi dan sumber pendanaan.
Kesimpulan: Integritas Ilmiah di Ujung Tanduk
Meskipun editor tamu dapat memberikan kontribusi berharga, praktik yang tidak terkontrol telah mengancam reputasi jurnal akademik. Retraksi besar-besaran oleh BMJ menjadi pengingat bahwa standar ilmiah tidak boleh dikompromikan demi keuntungan sesaat. Dunia akademik kini dihadapkan pada pilihan: memperketat pengawasan atau membiarkan sistem ini semakin rusak.