Dua organisasi terkemuka di bidang kebebasan pers, Freedom of the Press Foundation dan Reporters Without Borders, mengirimkan surat resmi kepada Makan Delrahim, Kepala Penasehat Hukum Paramount, untuk meminta akses terhadap seluruh catatan dan dokumen perusahaan. Surat ini dikeluarkan setelah munculnya laporan yang menyebutkan bahwa David Ellison, CEO Paramount, diduga menjanjikan 'favor' kepada pejabat Gedung Putih guna memperoleh persetujuan federal atas rencana akuisisi Paramount terhadap Warner Bros. Discovery.
Dugaan Pelanggaran Kewajiban dan Praktik Korupsi
Dalam surat yang dikirim pada Kamis (12/9), pengacara dari Public Integrity Project yang mewakili kedua kelompok tersebut menulis, "Laporan ini menciptakan dasar yang kredibel untuk meyakini bahwa Ellison, anggota dewan lainnya, dan eksekutif Paramount mungkin telah melanggar kewajiban fidusia atau melakukan tindakan tidak etis lainnya."
Surat tersebut juga menekankan bahwa kedua kelompok tersebut memiliki saham di Paramount, sehingga berhak meminta dokumen perusahaan berdasarkan hukum Delaware yang mengizinkan pemegang saham untuk memeriksa catatan perusahaan dengan 'tujuan yang layak'.
Rincian Tuduhan dalam Laporan
Surat sepanjang 19 halaman ini memuat 12 halaman yang dikhususkan untuk merujuk pada berbagai artikel investigasi yang menyebutkan sejumlah tindakan mencurigakan terkait upaya akuisisi oleh Ellison dan ayahnya, Larry Ellison, yang juga merupakan rekan bisnis dan teman dekat mantan Presiden AS Donald Trump. Beberapa poin utama yang disoroti meliputi:
- Pembatalan acara 'The Late Show with Stephen Colbert' menjelang persetujuan merger Paramount, yang diduga terkait dengan upaya mendapatkan dukungan politik.
- Adanya janji dari Ellison kepada pejabat pemerintahan Trump untuk melakukan 'perubahan besar-besaran' pada CNN jika merger Warner Bros. Discovery disetujui.
- Perubahan signifikan di CBS News setelah Ellison menunjuk Bari Weiss sebagai pemimpin redaksi, termasuk pemutusan kontrak sejumlah jurnalis dan perubahan editorial yang dianggap kontroversial.
Kelompok tersebut menegaskan dalam suratnya, "Rangkaian peristiwa yang diuraikan—sepenuhnya bersumber dari laporan investigasi media mainstream—menciptakan kekhawatiran yang kredibel bahwa pimpinan Paramount telah menawarkan, meminta, atau melakukan pertukaran korup: liputan yang lebih menguntungkan terhadap pemerintahan Trump dan sekutunya sebagai imbalan atas perlakuan istimewa dari regulator antitrust dan media pemerintahan Trump."
Mereka menambahkan, "Jika pertukaran korup semacam itu benar-benar terjadi, baik dalam bentuk proposal maupun pelaksanaan, hal tersebut akan melanggar kewajiban fidusia dan berpotensi menimbulkan tanggung jawab hukum, baik pidana maupun perdata, serta kewajiban hukum lainnya di tingkat federal maupun negara bagian."
Tuntutan dan Ancaman Hukum
Freedom of the Press Foundation dan Reporters Without Borders memberikan tenggat waktu lima hari kepada Paramount untuk merespons surat tersebut. Jika tidak ada tanggapan yang memadai, kedua kelompok tersebut mengancam akan mengambil tindakan hukum lebih lanjut.
Saat ini, juru bicara Paramount belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan tersebut. Surat ini menjadi bagian dari rangkaian protes yang dilancarkan oleh berbagai kelompok advokasi media dan hiburan terhadap rencana merger tersebut.
Laporan mengenai surat ini pertama kali dipublikasikan oleh Status.