Perusahaan teknologi kini berlomba-lomba membangun pusat data di kawasan pedesaan dengan iming-iming lahan murah, sumber daya melimpah, dan insentif pajak besar. Fenomena ini mengancam wajah kota-kota kecil di Amerika Serikat, termasuk Archbald, Pennsylvania. Kota berpenduduk hanya 7.000 jiwa ini tengah dibanjiri enam proposal pembangunan pusat data skala besar untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat.
Menurut The Washington Post, keenam proyek tersebut akan mencakup 51 gedung pusat data berukuran superbesar—setara dengan enam hingga delapan lapangan sepak bola per gedung. Tujuh bangunan utama bahkan memiliki luas lebih dari satu juta kaki persegi per unit, setara dengan 23 hektar. Lokasi strategis Archbald, yang terhubung langsung ke jaringan transmisi regional dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Susquehanna, menjadikannya sasaran empuk bagi para pengembang.
Namun, dampak positifnya bagi warga terasa minim. Pusat data jarang menciptakan lapangan kerja lokal yang signifikan, justru membebani sumber daya kota dan jaringan listrik. Ketegangan pun memuncak. Pada 18 Maret, petisi penolakan data center berjudul "KEPERCAYAAN PUBLIK TELAH DILANGGAR" diluncurkan, menyerukan agar pemerintahan kota mengutamakan kepentingan warga, bukan para pengembang.
Situasi semakin panas ketika tiga pemimpin dewan kota—ketua, wakil ketua, dan presiden pro tempore—dipaksa mundur oleh anggota dewan lainnya pada Maret lalu. Keputusan itu disambut tepuk tangan oleh ratusan warga Archbald yang menyalahkan para pejabat atas aliran proposal data center yang tak terkendali.
Geralyn Esposito, salah satu warga, menegaskan di hadapan media lokal,
"Anda telah memimpin banyak pertemuan dengan menegur warga layaknya anak kecil saat mereka menyampaikan keluhan yang justru berasal dari tindakan Anda sendiri. Anda menggunakan palu sidang layaknya senjata untuk membungkam dan memberangus perlawanan."
Wali Kota Archbald, Shirley Barrett, mengakui bahwa perdebatan ini telah merusak kohesi masyarakat.
"Kami menginginkan jawaban, tetapi semuanya terjadi begitu cepat sehingga kami tak tahu apa yang sedang terjadi,"ujarnya kepada Washington Post.
Saat ini, keenam proyek pusat data tengah berada pada tahap perencanaan yang berbeda-beda. Apakah perlawanan warga akan berhasil menghentikan gelombang pembangunan ini masih menjadi tanda tanya. Namun, dengan unjuk rasa sporadis dan kampanye media sosial yang masif, perjuangan mereka baru saja dimulai.