Lulusan Baru Tetap Optimis di Pasar Kerja Sulit, Laporan Ungkap Alasannya
Kesulitan Pasar Kerja Bagi Lulusan Baru
Setelah lulus, banyak lulusan baru yang terpaksa pindah ke rumah orang tua. Mereka kemudian mengirimkan puluhan, bahkan ratusan, lamaran pekerjaan. Akhirnya, mereka mendapatkan pekerjaan—namun sering kali merasa terlalu berkualifikasi.
Ini adalah realitas yang dihadapi lulusan baru di Indonesia maupun dunia. Laporan terbaru dari ZipRecruiter—yang melakukan survei terhadap 1.500 lulusan perguruan tinggi tahun 2025 dan 1.500 calon lulusan tahun depan—mengungkapkan bahwa pasar kerja saat ini tengah mengubah cara generasi muda belajar, bekerja, dan hidup.
Meski banyak tantangan, mereka tetap memiliki harapan untuk mencapai tujuan profesional dalam waktu dekat.
Persaingan Ketat dan Dampak AI
Saat ini, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan tingkat awal jauh lebih ketat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh semakin sedikitnya lowongan pekerjaan dan semakin besarnya pengaruh kecerdasan buatan (AI) dalam membentuk pasar kerja.
Lebih banyak pencari kerja yang saling berkompetisi untuk mendapatkan sedikit lowongan pekerjaan yang tersedia. Para profesional muda ini bekerja lebih keras, mengirimkan lebih banyak lamaran pekerjaan—namun mereka menerima lebih sedikit penawaran pekerjaan dan memiliki lebih sedikit pilihan mengenai tempat mereka bekerja.
Banyak lulusan baru yang menyalahkan AI atas kondisi ini. Menurut laporan ZipRecruiter, hampir setengah (47%) lulusan baru mengatakan bahwa AI telah berdampak pada bidang pekerjaan mereka.
Mereka yang berada di bidang komunikasi, studi media, atau hubungan masyarakat mendominasi porsi lulusan yang merasa AI paling berdampak pada pekerjaan mereka. Hal ini diikuti oleh bidang ilmu komputer, teknologi informasi (TI), dan ilmu data.
Kurangnya Persiapan Universitas Terhadap AI
Yang semakin membuat frustrasi bagi lulusan baru adalah ketidakpercayaan mereka bahwa universitas telah mempersiapkan mereka untuk menghadapi perubahan ini. Hanya 23% lulusan baru yang mengatakan bahwa sekolah mereka menawarkan pelatihan AI yang ekstensif untuk penggunaan profesional.
Terdapat juga kesenjangan gender dalam perasaan ini. Hanya 18,7% lulusan perempuan yang mengatakan mereka memiliki pelatihan AI yang terintegrasi dalam kurikulum mereka, dibandingkan dengan 28,6% rekan laki-laki mereka.
Bahkan, hampir 14% perempuan—dua kali lipat dari laki-laki—mengatakan bahwa sekolah mereka lebih fokus pada menutupi risiko AI tanpa mengajarkan cara menggunakan alat tersebut secara profesional.
Di pasar kerja yang mengharapkan kefasihan AI, kesenjangan ini dapat menimbulkan konsekuensi serius.
Kesenjangan Upah dan Ketidaksiapan Sekolah
Ketika mereka memasuki dunia kerja, survei menemukan bahwa perempuan muda memulai karier dengan upah hanya 80 sen untuk setiap dolar upah laki-laki.
Survei ini juga memiliki beberapa statistik yang menjanjikan—setidaknya di permukaan. Meskipun kondisi sulit, 77% lulusan baru mampu mendapatkan pekerjaan dalam waktu tiga bulan setelah lulus. Angka ini meningkat dibandingkan tahun lalu, yang hanya 63%.
Namun, konteks dari angka ini penting. Lulusan baru mengirimkan lebih banyak lamaran pekerjaan dan melamar untuk jenis pekerjaan yang berbeda—sering kali pekerjaan yang mereka rasakan terlalu berkualifikasi.
Separuh (51%) lulusan baru melihat pekerjaan mereka saat ini sebagai batu loncatan untuk mencapai karier yang sebenarnya mereka inginkan.
Tingkat Pengangguran dan Peran Pengalaman Kerja
Terlepas dari perdebatan mengenai apakah gelar sarjana masih layak di era ini, survei menemukan bahwa lulusan baru perguruan tinggi menghadapi tingkat pengangguran sebesar 5,6%. Angka ini lebih tinggi daripada tingkat pengangguran 3,1% untuk seluruh pekerja berpendidikan sarjana, namun lebih rendah daripada tingkat pengangguran 7,8% untuk rekan seusia mereka secara keseluruhan.
Pengalaman kerja dan jaringan juga mengubah hasil. Lulusan baru yang memiliki pengalaman kerja dua kali lebih mungkin untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus.
Hampir 88% lulusan yang memiliki pekerjaan mengatakan bahwa jaringan sangat penting dalam membantu mereka mendapatkan pekerjaan pertama.
Rekomendasi untuk Lulusan Baru dan Institusi Pendidikan
Menghadapi pasar kerja yang sulit, lulusan baru perlu meningkatkan kefasihan AI mereka. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan profesional yang ekstensif.
Institusi pendidikan juga perlu menutup kesenjangan gender dalam pelatihan AI. Sekolah-sekolah harus memastikan bahwa kurikulum mereka mencakup pelatihan AI yang komprehensif, serta risiko dan manfaatnya.
Bagi lulusan baru yang ingin meningkatkan peluang mereka, rekomendasi berikut dapat dipertimbangkan:
- Mengikuti pelatihan AI profesional yang ditawarkan oleh sekolah atau lembaga lain.
- Membangun jaringan profesional sejak dini, baik melalui media sosial maupun acara-acara profesional.
- Mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kualifikasi, meskipun pekerjaan tersebut dianggap sebagai batu loncatan.
- Menyadari pentingnya pengalaman kerja dan mencoba untuk mendapatkan pekerjaan yang relevan dengan bidang studi.
- Menyiapkan diri untuk persaingan ketat di pasar kerja dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan.
“Pasar kerja saat ini tengah membentuk generasi muda. Meski banyak tantangan, mereka tetap memiliki harapan untuk mencapai tujuan profesional mereka.” — Laporan ZipRecruiter
Kesimpulan: Optimisme di Tengah Kesulitan
Meskipun pasar kerja saat ini tengah menghadapi persaingan ketat dan dampak AI, lulusan baru tetap memiliki optimisme untuk mencapai tujuan profesional mereka. Laporan ZipRecruiter menunjukkan bahwa meskipun banyak tantangan, mereka tetap memiliki harapan untuk membentuk karier mereka di masa depan.
Dengan meningkatkan kefasihan AI, membangun jaringan profesional, dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kualifikasi, lulusan baru dapat meningkatkan peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus.