Gangguan Parah di Coinbase akibat Suhu Berlebih di AWS

Coinbase, salah satu bursa kripto terbesar di dunia, mengalami gangguan sistem selama lebih dari tujuh jam pada Kamis (8/5/2026). Penyebabnya adalah suhu udara yang berlebih di salah satu pusat data Amazon Web Services (AWS) di wilayah Virginia Utara, Amerika Serikat. Gangguan ini membuat pengguna tidak dapat melakukan pembelian maupun penjualan aset kripto.

Harga Melonjak, Transaksi Terhenti

Selama gangguan berlangsung, harga di buku pesanan Coinbase terpantau jauh lebih tinggi dibandingkan bursa lain seperti Binance dan Hyperliquid. Misalnya, harga Bitcoin di Coinbase sempat menunjukkan selisih ratusan dolar dibandingkan harga pasar yang sebenarnya. Coinbase akhirnya mengakui bahwa masalah ini disebabkan oleh "peningkatan suhu pada layanan AWS yang terdampak".

AWS Akui 'Peristiwa Termal' di Data Center

AWS, sebagai penyedia layanan cloud terbesar di dunia, mengungkapkan bahwa terjadi "peristiwa termal" di salah satu pusat datanya. Hal ini memengaruhi perangkat keras hosting cloud mereka, menyebabkan kehilangan daya dan gangguan sistem. AWS segera mengambil tindakan dengan mengaktifkan sistem pendingin tambahan untuk memulihkan rak-rak yang terdampak secara aman.

AWS menggunakan sistem pendingin evaporatif, di mana filter pada unit pendingin udara dibasahi dengan air untuk mendinginkan udara panas yang masuk. Proses penguapan air inilah yang mendinginkan suhu di dalam data center. Metode serupa juga diterapkan oleh Microsoft dalam sistem pendingin datanya.

Coinbase Kembali Beroperasi setelah 7 Jam

Setelah proses pemulihan yang panjang, Coinbase akhirnya mengumumkan bahwa semua pasar telah kembali diaktifkan untuk perdagangan. Sebelumnya, Coinbase sempat memasukkan pasar ke dalam mode "Hanya Batal" sebelum akhirnya mengaktifkan kembali perdagangan. Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas sistem sebelum dibuka secara penuh.

AWS juga mengunggah pembaruan melalui akun resminya di X (sebelumnya Twitter):

"Kami melihat tanda-tanda pemulihan awal. Kami terus bekerja untuk menormalkan suhu dan mengaktifkan kembali rak-rak yang terdampak di Zona Ketersediaan US-EAST-1."

— AWS Support (@AWSSupport), 8 Mei 2026

Coinbase Hadapi Masalah Bertubi-tubi di 2026

Gangguan ini menambah daftar panjang masalah yang dihadapi Coinbase di awal tahun 2026. Baru-baru ini, Coinbase memberhentikan 14% karyawannya akibat tekanan finansial. Pada kuartal pertama 2026, perusahaan ini mencatat kerugian sebesar $394 juta.

Gergely Orosz, seorang insinyur perangkat lunak, menyoroti dampak buruk dari gangguan ini. Ia menyebutkan bahwa insiden ini menjadi "optik yang tidak menguntungkan" bagi Coinbase, terutama beberapa hari setelah CEO mereka menyatakan bahwa tim non-teknis telah berkontribusi dalam pengembangan perangkat lunak. Orosz menambahkan, "Gangguan ini terjadi karena Coinbase sangat bergantung pada AWS. Ketika AWS (atau sebagian darinya) mengalami gangguan, Coinbase juga ikut terganggu."

Sejarah Gangguan AWS yang Memengaruhi Bursa Kripto

Masalah serupa pernah terjadi pada 2025, ketika pusat data AWS di Singapura mengalami pemadaman listrik. Akibatnya, beberapa bursa kripto seperti Binance terpaksa menangguhkan penarikan dana, sementara KuCoin, MEXC, dan dompet Rabby juga mengalami gangguan. Insiden ini menunjukkan kerentanan sistem terhadap ketergantungan yang tinggi pada satu penyedia layanan cloud.

Kesimpulan: Ketergantungan pada AWS Menjadi Risiko

Gangguan di Coinbase kali ini menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan yang sangat bergantung pada satu penyedia layanan cloud. Meskipun AWS telah mengambil langkah pemulihan, insiden ini menunjukkan pentingnya diversifikasi infrastruktur untuk meminimalkan dampak gangguan di masa depan.

Sumber: Protos