Selat Hormuz Tertutup, Krisis Energi Global Makin Parah
Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Timur Tengah dengan Samudra Hindia, masih dalam keadaan tertutup. Presiden AS Donald Trump pada Rabu (12/6) menegaskan bahwa AS akan mempertahankan blokade hingga Iran menyerah. Kondisi ini semakin memperpanjang krisis ekonomi dan kemanusiaan yang sudah berlangsung.
Ancaman terhadap Pasokan Energi dan Stabilitas Ekonomi
Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa dunia tengah menghadapi "ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah". Kenaikan harga bahan bakar jet dan kelangkaan pasokan mengancam berbagai sektor, mulai dari penerbangan komersial di Eropa hingga upaya pemadaman kebakaran hutan di Amerika Serikat bagian barat.
Selain itu, potensi fenomena super El Niño dapat memicu gelombang panas di Asia, meningkatkan permintaan akan pendingin udara dan bahan bakar fosil. Kekeringan atau banjir akibat pola cuaca ekstrem juga dapat memaksa pembangkit listrik tenaga air berhenti beroperasi, memaksa wilayah yang bergantung padanya untuk meningkatkan konsumsi minyak dan gas yang semakin langka dan mahal.
Kombinasi cuaca ekstrem dan kelangkaan pupuk berbahan dasar gas yang melewati Selat Hormuz berpotensi memperburuk krisis pangan global yang sudah dipicu oleh perubahan iklim.
Dampak terhadap Harga Bahan Bakar di AS
Meskipun pemerintahan Trump tampaknya tidak terlalu peduli dengan dampak perang terhadap krisis di wilayah lain, perang di Iran terus memengaruhi salah satu prioritas utama Trump: harga bahan bakar. Di AS, harga bensin telah melonjak hingga hampir US$4,30 per galon.
Namun, bagi AS, perang di Iran membawa risiko lebih besar daripada sekadar ketidakpuasan masyarakat akibat kenaikan harga di pompa. Semakin lama perang berlangsung, semakin banyak negara yang mulai mempertanyakan apakah minyak dan gas benar-benar merupakan komponen yang diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Perang Meningkatkan Ketergantungan pada Bahan Bakar Fosil
Sementara itu, Gedung Putih berupaya keras untuk melindungi model pertumbuhan ekonomi berbasis bahan bakar fosil yang tengah terancam oleh perang ini. Intervensi militer AS di luar negeri belakangan ini didorong oleh lonjakan produksi bahan bakar fosil dalam negeri. Jika AS masih menjadi importir bersih minyak dan gas, Gedung Putih mungkin akan menganggap penutupan Selat Hormuz sebagai risiko yang tidak dapat diterima.
Sejak lama, AS telah menjadikan kemampuannya untuk mengekspor bahan bakar fosil sebagai bagian penting dari visi ekonominya. Negara ini bahkan mengunci negara lain dalam ketergantungan pada minyak dan gas AS dengan dalih keamanan energi. Namun, dengan semakin banyaknya pilihan energi alternatif yang lebih stabil—dan dari sumber yang lebih dapat diandalkan—ketergantungan ini mulai terlihat sebagai pilihan yang buruk.
Negara-negara Mulai Beralih ke Energi Bersih
Beberapa negara kini mulai merencanakan masa depan energi yang lebih sedikit bergantung pada bahan bakar fosil dan AS. Pada pekan lalu, pemimpin dari hampir 60 negara berkumpul di Santa Marta, Kolombia, untuk membahas transisi menuju energi bersih. Pertemuan ini dipicu oleh fakta bahwa negara-negara produsen bahan bakar fosil utama—termasuk Arab Saudi, Rusia, dan AS—telah membuat diskusi tentang transisi energi menjadi hampir mustahil dalam forum iklim PBB.
Selwin Hart, penasihat khusus PBB, menekankan bahwa negara-negara produsen bahan bakar fosil telah menghambat kemajuan dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim.
Kesimpulan: Perang di Iran Merugikan Ekonomi Berbasis Bahan Bakar Fosil
Perang yang dipicu oleh pemerintahan Trump di Iran tidak hanya memperparah krisis energi global, tetapi juga mengancam model ekonomi yang selama ini bergantung pada bahan bakar fosil. Dengan semakin banyaknya negara yang beralih ke energi bersih, AS berisiko kehilangan pengaruhnya dalam pasar energi global. Dampak jangka panjang dari kebijakan ini mungkin justru akan mempercepat transisi energi dunia menuju sumber yang lebih berkelanjutan.