Ancaman komputer quantum terhadap Bitcoin kini semakin mendesak. Peneliti independen Giancarlo Lelli baru saja mencetak rekor baru dengan memecahkan kunci kriptografi kurva eliptik menggunakan teknologi quantum. Pencapaian ini 512 kali lebih besar dari rekor sebelumnya, menandakan kemajuan signifikan dalam ancaman terhadap sistem keamanan crypto.
Kunci kriptografi yang berhasil dipecahkan Lelli berukuran 15-bit, sementara rekor sebelumnya hanya 6-bit. Ia menggunakan perangkat keras quantum yang dapat diakses melalui cloud untuk mencapai terobosan ini. Project Eleven, startup yang fokus pada mitigasi ancaman quantum terhadap Bitcoin, memberikan hadiah satu Bitcoin kepada Lelli atas pencapaiannya.
Ancaman terhadap Bitcoin semakin nyata
Meskipun kunci Bitcoin sendiri berukuran 256-bit—masih jauh lebih besar dari 15-bit yang berhasil dipecahkan—laju perkembangan serangan quantum menunjukkan potensi bahaya di masa depan. Para peneliti di Chaincode Labs memperkirakan hingga 60% pasokan Bitcoin, atau sekitar $800 miliar, berisiko rentan terhadap serangan quantum.
Para ahli memperingatkan bahwa ancaman ini semakin mendesak seiring dengan meningkatnya perkembangan teknologi quantum. Baru-baru ini, Google memajukan perkiraan ketersediaan komputer quantum skala besar menjadi tahun 2029, lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Hal ini memaksa para pengembang Bitcoin untuk segera mencari solusi guna melindungi jaringan.
Langkah-langkah darurat untuk Bitcoin
Salah satu proposal yang muncul adalah untuk membekukan koin-koin yang terpapar risiko quantum, termasuk dugaan milik Satoshi Nakamoto yang berjumlah 1,1 juta Bitcoin. Langkah ini dianggap perlu untuk mencegah penyalahgunaan jika serangan quantum berhasil di masa depan.
Namun, ancaman tidak hanya datang dari sisi keamanan. Industri pertambangan Bitcoin juga tengah mengalami krisis. Menurut analis Bernstein, sebagian besar penambang besar di AS telah mulai beralih ke infrastruktur AI karena sektor pertambangan Bitcoin menjadi semakin tidak menguntungkan setelah peristiwa halving pada tahun 2024. Selain itu, aktivitas jaringan Bitcoin menurun drastis sejak peluncuran ETF Bitcoin pada Januari 2024, yang berdampak pada pendapatan para penambang yang bergantung pada biaya transaksi.
Kolapsnya keamanan Bitcoin?
Jika komputer quantum hadir sementara para penambang meninggalkan jaringan, stabilitas Bitcoin bisa runtuh dengan cepat. Nick Hansen, CEO Luxor, sebuah platform pertambangan, menyatakan bahwa situasi saat ini tidak kondusif untuk investasi baru di sektor pertambangan. "Secara singkat, situasinya tidak baik," ujarnya. "Tidak ada katalis positif yang mendorong investasi berkelanjutan di pertambangan saat ini."
Dengan ancaman quantum yang semakin dekat dan kondisi pertambangan yang melemah, masa depan Bitcoin kini berada di persimpangan yang kritis. Para pemangku kepentingan diharapkan segera mengambil tindakan untuk melindungi jaringan terbesar di dunia ini.