UL Solutions, yang dikenal dengan logo UL pada perangkat elektronik, telah menjadi simbol keamanan selama lebih dari satu abad. Didirikan untuk menguji keselamatan produk listrik bagi perusahaan asuransi, kini UL hadir di mana-mana—namun di balik kesederhanaan logo tersebut, tersembunyi sistem bisnis yang kompleks.
UL berawal dari kebutuhan untuk menguji keselamatan listrik ketika listrik mulai masuk ke rumah-rumah pada awal abad ke-20. Saat itu, perusahaan asuransi memerlukan jaminan bahwa produk listrik tidak menimbulkan risiko kebakaran. UL pun berkembang menjadi lembaga sertifikasi independen yang diakui secara global. Logo UL kini tertera pada berbagai perangkat, mulai dari charger ponsel hingga peralatan rumah tangga.
Namun, di era digital, UL menghadapi tantangan baru. Dengan maraknya perangkat elektronik murah di platform seperti Amazon, banyak konsumen yang lebih mementingkan harga daripada sertifikasi keselamatan. UL pun berupaya menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, termasuk mengembangkan standar untuk sistem kecerdasan buatan (AI).
Baru-baru ini, UL meluncurkan standar baru bernama UL 3115, sebuah kerangka kerja untuk mengevaluasi produk berbasis AI sebelum dan selama masa penggunaan. Standar ini memerlukan kolaborasi luas dari perusahaan dan regulator, serta metode pengujian yang andal untuk AI—yang hingga kini masih menjadi tantangan tersendiri.
Di balik inovasi tersebut, UL juga menghadapi hambatan geopolitik. Pada akhir masa pemerintahan Biden, UL ditunjuk sebagai administrator utama program Cyber Safety untuk menetapkan standar perangkat terhubung (Internet of Things). Namun, pemerintahan Trump membatalkan kesepakatan tersebut dengan alasan yang tidak pernah dijelaskan secara terbuka. Alasannya diduga terkait dengan hubungan UL dengan China, tempat sebagian besar laboratorium pengujian UL berada—karena sebagian besar produksi elektronik dunia berasal dari sana.
CEO UL Solutions, Jennifer Scanlon, mengungkapkan bahwa situasi ini mencerminkan dinamika kompleks antara keselamatan, teknologi, dan hubungan internasional. Dalam wawancara eksklusif dengan Decoder, Scanlon membahas masa depan sertifikasi keselamatan, tantangan dalam menguji AI, serta dampak kebijakan pemerintah terhadap operasional UL.
Tentang ledakan di laboratorium, Scanlon mengungkapkan bahwa banyak perangkat yang diuji di laboratorium UL mengalami kerusakan, bahkan meledak. Ia mengakui bahwa suara ledakan tersebut terkadang terdengar hingga ke kantornya. Meskipun demikian, proses pengujian ini menjadi bukti nyata bahwa UL terus berupaya memastikan keselamatan produk sebelum sampai ke tangan konsumen.
UL juga terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi terbaru. Dengan semakin banyaknya perangkat pintar dan sistem AI yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, UL berperan penting dalam menetapkan standar yang memastikan keamanan dan keandalan produk tersebut. Standar UL 3115, misalnya, dirancang untuk menguji sistem AI dari berbagai aspek, mulai dari keamanan data hingga potensi risiko yang mungkin timbul selama penggunaan.
Namun, tantangan terbesar mungkin bukan hanya dari sisi teknologi, melainkan juga dari kebijakan global. UL memiliki laboratorium di berbagai negara, termasuk China, yang menjadi pusat produksi elektronik dunia. Meskipun demikian, ketegangan geopolitik dapat memengaruhi operasional perusahaan, seperti yang terjadi dengan pembatalan program Cyber Safety oleh pemerintahan sebelumnya.
Scanlon menekankan bahwa UL tetap berkomitmen untuk menjadi pemimpin dalam sertifikasi keselamatan, meskipun dihadapkan pada berbagai hambatan. Dengan pengalaman lebih dari satu abad, UL terus berinovasi untuk memastikan bahwa setiap perangkat yang membawa logo UL telah melalui pengujian yang ketat dan memenuhi standar keselamatan tertinggi.