Moratorium Air untuk Data Center Senjata Nuklir
Ypsilanti Township di Michigan mengambil langkah tegas dengan memberlakukan moratorium selama 365 hari untuk menghentikan pasokan air ke data center skala besar yang direncanakan. Keputusan ini diambil untuk mengevaluasi dampak lingkungan dan keberlanjutan sumber daya air akibat kebutuhan air yang sangat besar dari fasilitas tersebut.
Data center senilai $1,2 miliar dengan luas 220.000 kaki persegi di Hydro Park, Ypsilanti Township, akan digunakan oleh Los Alamos National Laboratories (LANL) untuk penelitian senjata nuklir. Fasilitas ini diperkirakan akan mengonsumsi 500.000 galon air per hari, yang rencananya akan dibeli dari Ypsilanti Community Utilities Authority (YCUA).
Alasan Moratorium
YCUA mendasarkan moratorium pada studi American Water Works Association yang menyoroti tingginya konsumsi air oleh data center skala besar, pusat komputasi AI, dan fasilitas komputasi performa tinggi. Menurut YCUA, fasilitas semacam ini merupakan pelanggan berdampak tinggi terhadap pasokan air dan sistem pembuangan limbah.
Selama periode moratorium 12 bulan, YCUA tidak akan menandatangani perjanjian reservasi kapasitas air. Langkah ini memberikan waktu bagi otoritas untuk melakukan analisis jangka panjang terhadap pasokan air dan studi keberlanjutan lingkungan.
Kekhawatiran Masyarakat
Proposal pembangunan data center ini menuai penolakan keras dari masyarakat. Selain alasan etis terkait penggunaan lahan untuk penelitian senjata nuklir, banyak warga yang khawatir akan menjadi sasaran serangan jika konflik global terjadi. Douglas Winters, pengacara Township, menyebutkan bahwa keberadaan fasilitas tersebut akan menjadikan Ypsilanti Township sebagai target utama dalam potensi perang.
Ia mencontohkan serangan bom terhadap data center di pesisir Teluk oleh Iran sebagai bukti meningkatnya risiko keamanan.
Konteks Politik dan Militer
Keputusan ini terjadi di tengah meningkatnya perlombaan senjata nuklir di Amerika Serikat. Pentagon telah mendorong para ilmuwan nuklir untuk merancang jenis senjata nuklir baru, dan anggaran 2027 hampir menggandakan alokasi dana untuk pembuatan inti senjata nuklir baru.
Meskipun demikian, pihak Universitas Michigan menegaskan bahwa data center ini tidak akan digunakan untuk memproduksi senjata nuklir. Steven Ceccio dari Universitas Michigan menjelaskan bahwa LANL bertugas untuk pemeliharaan dan keamanan stok senjata nuklir yang ada, bukan untuk uji coba senjata secara langsung.
"Los Alamos memiliki tugas untuk menjaga keamanan nuklir—bukan melakukan uji coba senjata secara langsung, melainkan menggunakan komputasi canggih untuk memastikan keamanan dan keandalan stok senjata nuklir yang ada tanpa perlu uji coba, terutama seiring dengan penuaan stok tersebut. Komputasi menjadi alat penting bagi LANL untuk menjalankan misi ini."
Tanggapan Masyarakat dan Langkah Selanjutnya
Masyarakat setempat telah lama menentang rencana pembangunan data center ini. Selain alasan moral, mereka juga prihatin terhadap dampak lingkungan dan risiko keamanan yang mungkin timbul. Moratorium ini memberikan waktu bagi pihak berwenang untuk melakukan kajian lebih mendalam sebelum mengambil keputusan final.
Sementara itu, pihak Universitas Michigan dan LANL terus menekankan bahwa fasilitas ini hanya akan digunakan untuk penelitian dan pemeliharaan senjata nuklir yang ada, bukan untuk pengembangan senjata baru.