Prediksi pasar Kalshi dan Polymarket kini semakin populer di kalangan masyarakat, menarik perhatian regulator, politisi, hingga pengguna media sosial. Beberapa klaim berlebihan pun bermunculan, seperti seseorang yang mengaku berhasil mencetak keuntungan besar dengan memanfaatkan model AI untuk berdagang di pasar prediksi.

Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan di arXiv milik Cornell University menunjukkan bahwa kenyataannya tidak semudah itu. Penelitian yang dilakukan oleh Arcada Labs melalui benchmark Prediction Arena menguji enam model AI terdepan dengan memberikan masing-masing dana senilai $10.000 untuk berdagang di pasar prediksi selama 57 hari pada awal tahun ini. Tujuannya adalah untuk menilai bagaimana AI menangani informasi real-time dan pengambilan keputusan di platform seperti Kalshi.

“Kami ingin melakukan evaluasi paling realistis di dunia untuk melihat apakah model AI mampu membuat keputusan real-time,” ujar Grace Li, salah satu pendiri Arcada Labs dan penulis studi tersebut.

Hasilnya tidak menggembirakan bagi para investor. Dalam periode tersebut, setiap model AI mengalami kerugian, dengan persentase antara 16% hingga 30,8% di Kalshi. Meskipun demikian, kerugian di Polymarket relatif lebih kecil dalam jangka waktu yang lebih singkat. Li menduga perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan akses pasar yang dimiliki model AI di kedua platform.

“Di Polymarket, model AI dapat berdagang di pasar mana pun yang tersedia,” jelas Li. “Sementara di Kalshi, mereka hanya diizinkan berdagang di 26 pasar yang telah kami daftarkan secara eksplisit.” Ia menambahkan, “Kami tidak menyadari betapa besar dampak dari memberikan kebebasan penuh kepada model untuk memilih pasar sendiri.”

Menurut Li, klaim di media sosial tentang keuntungan besar yang dihasilkan AI dalam perdagangan pasar prediksi mungkin tidak berlebihan. Ia menyebutkan bahwa di Polymarket, “saat ini, perdagangan berbasis LLM (Large Language Model) benar-benar sesuai dengan hype.” Ia juga menyebutkan hasil internal terbaru di mana model Opus 4.6 berhasil melakukan beberapa perdagangan luar biasa.

Namun, Li menekankan bahwa kesuksesan tersebut bukanlah bukti skema cepat kaya, melainkan indikasi kemampuan model AI yang semakin otonom. “Kami membayangkan model-model ini akan terus meningkat seiring waktu, melampaui kemampuan manusia, hingga akhirnya dana hedge berbasis AI menjadi hal yang lumrah,” katanya.

Meski demikian, Li lebih tertarik untuk mengeksplorasi dampak kecerdasan tambahan ini bagi umat manusia. “Kami lebih fokus pada pertanyaan, apa arti tambahan unit kecerdasan ini bagi peradaban manusia,” pungkasnya.