Lebih dari dua abad setelah manusia memusnahkan Hippotragus leucophaeus atau yang dikenal sebagai antelop biru di dataran Afrika Selatan, spesies bertanduk indah ini kini direncanakan untuk dihidupkan kembali. Kabar ini juga menandai proyek keenam Colossal Biosciences—perusahaan bioteknologi yang telah berhasil menciptakan tikus berbulu tebal dan mengembalikan genetik serigala raksasa pada tahun lalu—dalam upaya menghidupkan spesies yang telah punah.
Perusahaan ini sebelumnya telah menetapkan target untuk melahirkan anak mamut berbulu pada tahun 2028, serta berencana menghidupkan kembali thylacine, moa besar, dan dodo dengan rekayasa genetika. Namun, antelop biru menawarkan tantangan dan peluang yang berbeda dibandingkan proyek-proyek sebelumnya yang lebih fokus pada spesies Pleistosen.
Proyek ini juga berpotensi menjadi solusi bagi ekosistem Afrika yang telah kehilangan antelop biru akibat perburuan oleh pemukim Eropa dan kaum Boer pada tahun 1800. Hilangnya spesies ini berdampak pada keanekaragaman hayati, terutama mengingat tekanan modern seperti perubahan iklim, hilangnya habitat, dan perburuan liar. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), 29 dari 90 spesies antelop di dunia terancam punah, sementara 62 persen populasi antelop telah mengalami penurunan. Lima spesies antelop di Afrika bahkan diklasifikasikan sebagai "sangat terancam punah".
"Orang-orang mengira antelop di Afrika itu melimpah dan tidak membutuhkan perlindungan, seperti rusa yang jumlahnya banyak," ujar Ben Lamm, CEO Colossal Biosciences. "Padahal, sekitar 30 persen spesies antelop terancam punah."
Salah satu alasan utama Colossal mendukung penghidupan kembali antelop biru sejak perusahaan ini didirikan pada 2020 adalah karena spesies ini sangat membutuhkan bantuan. Lamm mengakui kontribusi besar Michael Hofreiter, Profesor Genomik Adaptif Evolusioner di Universitas Potsdam, Jerman, serta penasihat ilmiah Colossal. "Sejak awal, ketika kami masih membicarakan mamut, dia selalu berkata, 'Kita harus menghidupkan antelop biru. Spesies ini luar biasa, dan antelop sangat membutuhkan bantuan,'" kenang Lamm.
Awalnya, Colossal berinvestasi dalam penelitian DNA Hofreiter mengenai antelop biru, meskipun proyek ini dianggap sebagai salah satu dari banyak penelitian yang tengah dieksplorasi perusahaan, seperti studi tentang hyena gua. "Kami tidak sedang mengerjakan hyena gua, tetapi salah satu peneliti kami sangat tertarik pada proyek tersebut. Jadi, kami mendukungnya karena menarik dan penting bagi ilmu pengetahuan," jelas Lamm. Namun, semakin banyak data ilmiah yang terkumpul, semakin jelas bahwa antelop biru dapat dihidupkan kembali dengan relatif mudah.
"Kami telah berhasil menguasai teknologi reproduksi berbantuan dan IVF. Kami juga telah menyelesaikan teknologi sel punca yang diinduksi. Kami telah menciptakan genom dan melakukan perbandingan genomik. Kami sedang mengedit genom, dan kami sangat yakin dengan hasilnya," kata Lamm.
Proyek antelop biru ini menjadi proyek pertama Colossal yang melibatkan lebih dari seratus edit pada genom sumber. Proses ini menggunakan genom antelop roan serta pengambilan ovum untuk menciptakan spesies yang diinginkan. Dengan target peluncuran pada tahun 2030, Colossal berharap antelop biru dapat kembali hadir dan berkontribusi pada pemulihan ekosistem Afrika yang semakin terancam.