Senator John Fetterman menjadi penentu kegagalan upaya Demokrat ketujuh untuk mendorong resolusi di bawah War Powers Act yang bertujuan menghentikan serangan militer Presiden Donald Trump ke Iran. Keputusan ini diambil dalam sidang Senat pada Rabu (14/5), yang merupakan pertama kalinya Senat menggelar pemungutan suara untuk mengakhiri perang di Iran sejak konflik melewati batas 60 hari.

Menurut War Powers Act, presiden wajib menarik pasukan jika Kongres tidak menyatakan perang atau menyetujui perpanjangan masa tugas pasukan. Pada pemungutan suara tersebut, resolusi gagal dengan selisih satu suara, yakni 49 lawan 50. Tiga senator Republik—Lisa Murkowski, Susan Collins, dan Rand Paul—memutuskan untuk menyimpang dari garis partai dan mendukung resolusi tersebut.

Keputusan Fetterman yang menolak resolusi ini bukanlah hal yang mengejutkan. Sebagai senator yang vokal mendukung tindakan tegas terhadap Iran, Fetterman menyebut negara tersebut sebagai "musuh nyata, ancaman nyata, dan bahaya nyata". Namun, dengan mendukung posisi Republik (dan Israel), Fetterman tidak hanya bertentangan dengan partainya sendiri, tetapi juga dengan keinginan konstituennya di Pennsylvania.

Sebuah jajak pendapat pada Maret 2025 menunjukkan bahwa mayoritas pemilih di Pennsylvania menolak keras serangan militer AS ke Iran, dengan selisih ketidaksetujuan mencapai -16 poin. Sementara itu, dilaporkan bahwa Presiden Trump telah mendesak para senator Republik untuk membujuk Fetterman agar bergabung dengan partai Republik demi mempertahankan mayoritas tipis mereka di Senat. Fetterman sendiri menanggapi dengan bercanda bahwa ia akan menjadi "Republik yang payah", sementara Trump menyebutnya sebagai "demokrat favoritnya".