Sabtu lalu, acara makan malam tahunan White House Correspondents' Dinner yang semula dimaksudkan untuk merayakan kebebasan pers, berubah menjadi momen chaos. Upaya pembunuhan terhadap mantan Presiden Donald Trump memaksa penyelenggara acara mengamankan para pejabat, termasuk Trump sendiri. Lebih dari satu jam kemudian, Presiden Asosiasi Wartawan Gedung Putih, Weijia Jiang, kembali ke panggung untuk mengumumkan bahwa Trump membatalkan acara tersebut—namun akan dijadwalkan ulang.
Jiang sempat bingung saat mengatakan Trump mengumumkan pembatalan melalui tweet, sebelum menyadari bahwa ia sebenarnya merujuk pada postingan di Truth Social, platform media sosial yang didirikan Trump setelah diblokir dari Twitter dan Facebook pasca serangan 6 Januari 2021. Meskipun demikian, pesan Trump dengan cepat menyebar luas—tidak hanya di Truth Social, tetapi juga di Twitter/X, Threads, dan platform lainnya.
Fenomena serupa terjadi berulang kali. Postingan Trump di Truth Social, mulai dari meme AI dirinya menyerupai Yesus, ancaman terhadap Iran, hingga pemberhentian menteri kabinet seperti Pam Bondi dan Kristi Noem, dengan cepat menjadi viral di berbagai platform. Bahkan di Bluesky, yang minim pengguna pendukung Trump, banyak pengguna yang membagikan postingannya hanya untuk dikritik. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Trump tidak terbatas pada satu platform.
Ketika Twitter dan Facebook memblokir Trump pada 2021 karena dianggap menyebarkan hasutan kekerasan, banyak pihak merasa lega. Namun, pembatasan tersebut dicabut kurang dari dua tahun kemudian. Meskipun Trump memilih untuk lebih aktif di Truth Social, ternyata ia tetap mampu mendominasi percakapan di media sosial.
Truth Social sendiri, yang mengklaim sebagai benteng kebebasan berbicara, memiliki pengguna harian aktif global hanya sekitar 700.000 orang pada April 2025—setara dengan 0,35% pengguna Twitter/X dan 0,38% pengguna Threads. Meskipun platform ini menawarkan berbagai grup diskusi seperti kebugaran, fotografi, dan anjing, kontennya sangat didominasi oleh dukungan terhadap Trump dan serangan terhadap lawan politiknya. Ada juga sedikit ketidakpuasan terkait perang di Iran.
Dari sisi bisnis, Truth Social juga tidak terlihat menjanjikan. Perusahaan induknya, Trump Media Technology Group, hanya mencatat pendapatan sebesar $3,7 juta pada 2025—setara dengan pendapatan Meta setiap 10 menit. Perusahaan ini bahkan mengalami kerugian sebesar $712 juta. Sebagai perusahaan publik yang mengandalkan hype, kapitalisasi pasarnya turun hampir 90% sejak IPO. Meskipun demikian, Truth Social tetap menjadi alat ampuh bagi Trump untuk menyampaikan pesannya secara langsung kepada publik.